Round-Up

Horor Mayat Pasien Corona di Jalan: Dulu Ekuador Kini Bolivia

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 21:32 WIB
Horor! Begitulah yang terjadi di Ekuador. Mayat hingga peti jenazah bergeletakan di jalanan saat pandemi Corona (Covid -19). Begini penampakannya.
Mayat Terbungkus Plastik dan Peti Jenazah Bergeletakan di Ekuador (Foto: Getty Images)
Sucre -

Corona terus menebarkan nuansa horornya di sejumlah negara. Nuansa ini tampak dari mayat-mayat pasien Corona yang terlantar di jalan dari Ekuador hingga Bolivia.

Pada bulan Mei 2020 lalu, jenazah tampak tergeletak di pojok Kota Guayaquil, Ekuador. Jenazah ini hanyalah satu dari banyak korban tewas COVID-19. Hingga 1 April 2020, ada 1.937 orang di sini dinyatakan positif terjangkit virus SARS-CoV-2.

Dilansir BBC, sejumlah gelandangan meninggal di jalan-jalan. Ini bak novel karya Joseph Conrad, The Heart of Darkness: horor, horor. Bedanya, horor ini terlalu nyata.

Pemakaman umum di kota ini ambruk di tengah pandemi. Seorang perempuan di sini bahkan melaporkan ayahnya meninggal di pangkuannya sesudah 24 jam di rumah. Mundur sedikit ke ujung Maret, 300 mayat diangkut polisi dari rumah-rumah warga.

Sayangnya, tak ada pula yang bersedia menguburkan. Akhirnya mayat-mayat sekadar ditaruh di pinggir jalan, terjerang matahari, bau busuknya tercium ke mana-mana.

Rumah sakit kewalahan menampung pasien maupun jenazah. Kota ini benar-benar suram dirundung makhluk super kecil. Wali Kota Guayaquil, Cyntia Viteri, berhadap-hadapan dengan pemerintah nasional.

Guayaquil adalah kota terbesar di Ekuador dengan kematian tertinggi di Amerika Latin. Presiden Ekuador, Lenn Moreno, membentuk tim gabungan untuk membantu pemulasaraan jenazah.

Jumat (3/4), dilansir AFP, 150 jasad dari jalan-jalan dan rumah-rumah warga diangkut. Nampaknya kedukaan ini belum akan segera berakhir. Pemerintah Ekuador mengingatkan bahwa hingga 3.500 orang bisa meninggal karena wabah ini dalam beberapa bulan mendatang. Karena kondisinya separah ini, pemerintah sampai memohon maaf ke rakyat.

"Kami mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang harus menunggu berhari-hari agar orang-orang terkasih mereka (yang meninggal) dibawa," kata Juru bicara pemerintah pemerintah, Jorge Wated.

Tak cukup jubir yang meminta maaf, Wakil Presiden Ekuador Otto Sonnenholzner juga meminta maaf. "Kami telah melihat gambar yang seharusnya tidak pernah terjadi dan sebagai pelayan publik, saya minta maaf," kata Sonnenholzer dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media lokal pada Sabtu (4/4), dilansir AFP.

Tradisi di kota ini, jenazah dimakamkan bersama peti, bukan dikremasi. Masalahnya, kota ini kehabisan peti. Otoritas kota pelabuhan tersebut mengatakan bahwa mereka telah menerima donasi 1.000 peti mati dari bahan kardus dari produsen lokal, dan mengantarkannya untuk digunakan di dua areal pemakaman setempat.

Kini, horor mayat-mayat pasien Corona tergeletak di jalan juga terjadi di Bolivia. Seperti dilansir AFP, Rabu (22/7/2020), Kepala Kepolisian Nasional Bolivia, Coronel Ivan Rojas, menuturkan bahwa 191 mayat ditemukan area metropolitan Cochabamba antara 15-20 Juli, sedangkan 141 mayat lainnya ditemukan di wilayah kota La Paz.

Kemudian 68 mayat ditemukan di Santa Cruz, kota terbesar di Olivia. Area metropolitan Santa Cruz merupakan area yang terdampak Corona paling parah di Bolivia. Separuh dari total kasus Corona di negara ini muncul di Santa Cruz.

Data penghitungan Johns Hopkins University (JHU) menunjukkan 60.991 kasus Corona terkonfirmasi di Bolivia, dengan 2.273 kematian.

Dalam pernyataannya, Rojas menyebut sekitar 85 persen dari mayat-mayat itu merupakan 'kasus positif COVID-19 dan kasus dengan gejala COVID, jadi akan dicatat sebagai kasus suspek'.

Sementara yang lain, sebut Rojas, meninggal akibat 'penyebab-penyebab lain, yang berarti kematian dari penyakit atau penyebab kekerasan'. Tidak diketahui pasti bagaimana bisa mayat-mayat itu telantar dan tidak dimakamkan dengan layak.

Menurut kantor epidemiologi nasional, wilayah Cochabamba dan La Paz mengalami 'kenaikan cepat' kasus Corona. Direktur Institut Investigasi Forensik, Andres Flores, menyatakan bahwa antara 1 April hingga 19 Juli, lebih dari 3 ribu mayat ditemukan di luar rumah sakit, diidentifikasi sebagai kasus terkonfirmasi atau kasus suspek Corona.

(rdp/rdp)