Round-Up

Vaksin Corona di Dunia Jadi Incaran Mata-mata

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 18 Jul 2020 08:44 WIB
Vaksin Corona
Foto: Ilustrasi vaksin Corona (dok. Istimewa)

Agensi-agensi dari Inggris, AS, dan Kanada itu mengatakan para peretas mengeksploitasi kelemahan perangkat lunak untuk mendapatkan akses ke sistem komputer yang rentan, dan menggunakan malware yang disebut WellMess dan WellMail untuk mengunggah dan mengunduh fail dari mesin yang terinfeksi.

Para peretas juga dikatakan telah menipu sejumlah orang untuk menyerahkan kredensial login dengan serangan yang disebut spear-phishing.

Namun seorang pakar keamanan siber mengatakan Rusia tidak mungkin menjadi satu-satunya yang terlibat dalam upaya semacam itu.

"Mereka punya banyak orang, kami punya banyak orang, Amerika punya lebih banyak lagi, seperti halnya China," kata Prof. Ross Anderson dari Laboratorium Komputer Universitas Cambridge.

"Mereka semua selalu berusaha mencuri barang-barang semacam ini."

NCSC menuduh kelompok hacker yang disebut APT29, juga dikenal sebagai The Dukes atau Cozy Bear. Dikatakan agensi itu lebih dari 95% yakin bahwa kelompok tersebut adalah bagian dari badan intelijen Rusia.

Cozy Bear pertama kali diidentifikasi sebagai "aktor ancaman" yang signifikan pada tahun 2014, menurut perusahaan keamanan siber Amerika Crowdstrike.

Perusahaan itu menggambarkan kelompok Cozy Bear "agresif" dalam taktiknya dan "sangat fleksibel, sering mengubah set alat-alat yang digunakannya".

Unit ini sebelumnya dituduh terlibat dalam peretasan Komite Nasional Demokratik AS (DNC) selama pemilihan Presiden AS pada tahun 2016.

Pada 2017, ia menyerang Partai Buruh Norwegia, kementerian pertahanan dan asing, serta layanan keamanan nasional negara itu. Laporan tersebut memuat rekomendasi yang dapat membantu melindungi organisasi dari serangan siber.

"Sepanjang tahun 2020, APT29 telah menyasar berbagai organisasi yang terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 di Kanada, Amerika Serikat dan Inggris, kemungkinan besar dengan maksud mencuri informasi dan kekayaan intelektual yang berkaitan dengan pengembangan dan pengujian vaksin COVID-19," kata laporan itu.