Dikritik Habis-habisan, Jadikah Israel Mencaplok Tepi Barat?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 15:36 WIB
Israel yang ketakutan dengan bom pejuang Palestina membangun tembok perbatasan Yerusalem. Begini kehidupan di tembok perbatasan saat dipotret 3 tahun lalu.
Foto: Tembok pembatas Yerussalem Palestina (Getty Images/Chris McGrath)

Prancis, Jerman bersama dengan beberapa negara Eropa lainnya dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang aneksasi, seperti halnya negara-negara Teluk Arab, yang dengannya Israel terus mengupayakan hubungan yang lebih hangat.

Yordania, salah satu dari dua negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, telah memperingatkan bahwa aneksasi dapat memicu "konflik besar-besaran" dan belum mengesampingkan peninjauan kembali perjanjian damai 1994 dengan negara Yahudi itu.

Sementara itu, para pengunjuk rasa mulai berkumpul di Kota Gaza menjelang demonstrasi yang dijadwalkan pukul 11.00 waktu setempat, sementara demonstrasi di Tepi Barat dijadwalkan akan dimulai pada sore hari.

Palestina telah mengatakan mereka bersedia untuk memperbaharui pembicaraan yang telah lama terhenti dengan Israel - tetapi tidak dengan ketentuan yang diuraikan dalam rencana Trump.

Hamas, yang telah berperang tiga kali dengan Israel sejak 2008, mengatakan bahwa aneksasi Israel di Tepi Barat akan menjadi "deklarasi perang".

Kelompok Islam itu meluncurkan sekitar 20 roket uji dari Gaza ke Laut Mediterania pada hari Rabu (1/7), suatu langkah yang bertujuan untuk mencegah Israel mewujudkan rencana aneksasinya, sumber Hamas mengatakan kepada AFP.

Israel menganeksasi Yerusalem timur setelah Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian Dataran Tinggi Golan di perbatasan Suriah pada 1981. Langkah-langkah itu tidak pernah diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional.

Halaman

(rdp/ita)