Round-Up

Rasialisme yang Makin Menjadi-jadi di AS Ketika Pandemi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 09:10 WIB
A man holds a U.S. flag upside down, a sign of distress, as protesters march down the street during a solidarity rally for George Floyd, Sunday, May 31, 2020, in the Brooklyn borough of New York. Protests were held throughout the city over the death of Floyd, a black man in police custody in Minneapolis who died after being restrained by police officers on Memorial Day. (AP Photo/Wong Maye-E)
Foto: Rasisme di AS semakin menjadi-jadi saat pandemi (AP Photo/Wong Maye-E)
Washington DC -

Amerika Serikat (AS) adalah negara yang paling parah terkena dampak pandemi Corona (COVID-19). Masalah ini semakin diperparah dengan rasialisme yang makin menjadi-jadi di negara Paman Sam itu.

Sebagaimana dikutip dari laman Worldometers, per Selasa (3/6/2020) jumlah kasus Corona di AS sudah mencapai 1.866.730. Ada 107.429 orang meninggal dunia dan 616.856 orang sembuh. Kondisi ini diperparah dengan rasialisme yang tumbuh saat pandemi.

Seperti dilansir dari BBC, Selasa (3/6) serangan terhadap orang-orang Asia Timur yang tinggal di AS meningkat selama pandemi, hal ini mengungkap kenyataan betapa tak nyaman menyandang identitas sebagai orang Asia ataupun China di Amerika.

Seperti kisah Tracy Wen Liu, meskipun dia tidak dilahirkan di AS, Tracy Wen Liu dalam kehidupan sehari-harinya merasa "menjadi warga negara Amerika".

Dia menyaksikan pertandingan sepak bola, menonton Sex and the City, dan menjadi tenaga relawan di tempat penyaluran bahan makanan.

Sebelum pandemi COVID-19, Liu, 31, tidak berpikir apa-apa tentang menjadi orang Asia Timur yang tinggal di Austin, Texas. "Jujur, saya pikir saya tidak terlalu menonjol," katanya.

Namun semua itu berubah. Merebaknya Corona di AS, membuat menjadi orang Asia di Amerika bisa menempatkan Anda sebagai sasaran - dan banyak orang, termasuk Liu, sudah merasakannya.

Dalam kasusnya, Liu mengatakan seorang temannya yang berasal dari Korea didorong dan diteriaki oleh beberapa orang di tempat berbelanja, dan kemudian diminta untuk pergi, hanya karena dia orang Asia dan mengenakan masker.

Di berbagai negara bagian termasuk New York, California, dan Texas, orang-orang dari Asia Timur diludahi, ditinju atau ditendang - dan dalam salah satu kasus bahkan ada yang ditusuk.

Terlepas dari apa yang dialami seperti kekerasan, perundungan, atau berbagai bentuk pelecehan sosial atau politik yang lebih berbahaya, lonjakan prasangka anti-Asia membuat banyak orang Asia - merujuk pada warga keturunan Asia Timur atau Asia Tenggara - bertanya-tanya apakah mereka pantas menjadi bagian dari masyarakat Amerika.

"Tujuan saya ketika pertama kali datang ke sini lima tahun yang lalu adalah menyesuaikan diri dengan budaya Amerika secepat mungkin," ujar Liu.

"Lantas pandemi menyadarkan saya bahwa karena saya orang Asia, dan karena penampilan saya atau di mana saya dilahirkan, saya tidak pernah bisa menjadi salah satu dari mereka."

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3