Round-Up

Serangan Balik Trump ke Perusahaan Medsos Gegara Label Tweet Palsu

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 23:11 WIB
twitter sentil cuitan donald trump
Foto: Cuitan Presiden AS Donald Trump yang diberi label palsu oleh Twitter (tangkapan layar)
New York -

Twitter untuk pertama kalinya memberi label 'tak berdasar' alias palsu pada kicauan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump menyerang balik dan mengancam akan menutup perusahaan berlambang burung biru itu.

Seperti dilansir AFP, Rabu (27/5/2020), mulanya ada dua kicauan pada akun pribadi Trump yang dinyatakan 'tidak berdasar' dan dituduh sebagai klaim palsu oleh Twitter. Keduanya merupakan tweet bersambung yang membahas soal surat suara via pos atau mail-in ballots berpotensi memicu pemilu curang.

"Tidak mungkin (NOL!) bahwa Surat Suara via Pos (Mail-In Ballots) akan menjadi sesuatu yang tidak akan menjadi penipuan substansial. Kotak surat akan dirampok, surat suara akan dipalsukan dan bahkan dicetak secara ilegal dan ditandatangani secara curang. Gubernur California sedang mengirimkan surat suara kepada jutaan orang, siapa saja..." demikian bunyi kicauan Trump yang dituduh sebagai klaim palsu oleh Twitter.

"...yang tinggal di negara bagian itu, tidak peduli siapa mereka atau bagaimana mereka ada di sana, akan mendapatkan satu. Itu akan diikuti dengan para profesional yang memberitahu orang-orang ini, yang kebanyakan bahkan tidak pernah terpikir untuk menggunakan hak suaranya sebelumnya, soal bagaimana dan siapa yang dipilih. Ini akan menjadi Pemilu Curang. Tidak mungkin!" imbuh kicauan Trump itu.

Kicauan-kicauan Trump itu diberi tautan 'Get the facts about mail-in ballots' di bagian bawahnya. Tautan itu berisi pemberitahuan bahwa kicauan yang dimaksud 'tidak berdasar' dan merupakan 'klaim palsu'. Tautan itu juga berisi berita-berita dari media terkemuka AS seperti CNN, The Washington Post dan sebagainya.

"Trump secara keliru mengklaim bahwa surat suara via pos akan mengarah pada 'Pemilu Curang'," demikian bunyi salah satu poin pemberitahuan Twitter.

"Namun, pemeriksa fakta (fact-checkers) menyatakan tidak ada bukti bahwa surat suara via pos terkait dengan penipuan pemilih," sebut poin lainnya.

Kicauan Trump yang diberi label 'tidak berdasar' itu diduga bertujuan untuk menyesatkan pemungutan suara via pos yang digelar di California. Dalam kicauannya, Trump menuduh bahwa siapa saja yang tinggal di negara bagian itu akan dikirimi surat suara via pos. Padahal faktanya, hanya orang-orang yang terdaftar secara resmi sebagai pemilih yang akan menerima surat suara via pos.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2