Iran Sahkan Aturan Pelarangan Penggunaan Teknologi Buatan Israel

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 10:56 WIB
FILE PHOTO: An Iranian flag flutters in front of the International Atomic Energy Agency (IAEA) headquarters in Vienna, Austria, January 15, 2016.   REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo
Foto: Bendera Iran (Dok. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo)
Teheran -

Iran resmi melarang penggunaan semua teknologi buatan Israel. Larangan ini termaktub dalam undang-undang (UU) yang baru disahkan.

Seperti dilansir dari koran harian Israel, Haaretz, Rabu (27/5/2020) mengutip Kantor Berita Fars Iran RUU itu disahkan minggu lalu. Yakni terkait "menghadapi tindakan bermusuhan dari rezim Zionis terhadap perdamaian dan keamanan" mencegah kerjasama dengan Israel. Itu berarti pembelian dan penggunaan teknologi Israel seperti perangkat keras dan perangkat lunak komputer dihentikan.

Presiden Hassan Rohani mengeluarkan perintah pelaksanaan aturan ini efektif mulai hari Selasa (26/5). Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Seyed Hossein Naqavi Hosseini, mengatakan awal bulan ini bahwa "kerja sama dengan rezim Zionis sama dengan permusuhan terhadap Tuhan dan korupsi di bumi."

Undang-undang tersebut menyerukan tindakan terhadap Israel yang melakukan "gerakan perang dan terorisme Israel, pengepungan (Gaza), pembangunan pemukiman, menggusur rakyat Palestina, dan pendudukan tanah negara-negara, termasuk Golan."

Pada bulan Maret, ulama Iran Grand Ayatollah Naser Makarem Shirazi mengatakan akan diperbolehkan untuk menggunakan vaksin Corona (COVID-19) yang dikembangkan oleh Israel jika "tidak ada pengganti." Tetapi dia juga mengatakan bahwa, secara umum, "Tidak diperbolehkan untuk berdagang dengan Zionis dan Israel."

Parlemen Iran yang baru terpilih bersidang pada hari Rabu (27/5), didominasi oleh anggota parlemen konservatif dan di bawah peraturan sosial, ketika negara itu berjuang untuk mengekang penyebaran virus Corona yang telah memukul Iran dengan keras.

TV pemerintah Iran mengatakan semua 268 anggota parlemen yang hadir telah dites negatif untuk virus tersebut.

(rdp/nvc)