Duh! Puluhan Ribu Pekerja Migran Miskin Terjebak di Maladewa karena Corona

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 17:02 WIB
Kondisi para pekerja migran yang terjebak di Maladewa (AFP Photo/ Ahmed Shurau)
Foto: Kondisi para pekerja migran yang terjebak di Maladewa (AFP Photo/ Ahmed Shurau)
Male, Maladewa -

Puluhan ribu pekerja migran yang menganggur telah terjebak dan diasingkan di Maladewa. Corona telah membuat resor-resor di tempat yang dijuluki surga wisata itu tutup.

Seperti dilansir dari AFP, Selasa (26/5/2020) kawasan wisata pantai Maladewa yang memiliki perairan yang biru kehijauan itu sudah berminggu-minggu kosong. Pemerintah menutup semua resor untuk mencegah wabah Corona. Alhasil, para pekerja migran terpaksa menganggur karena tempat bekerja mereka ditutup.

Seperti Singapura, yang mencatat sejumlah besar kasus virus Corona di kalangan migran yang tinggal di asrama yang padat, Maladewa juga sangat bergantung pada tenaga kerja migran.

Nasib nestapa ini dirasakan oleh puluhan ribu pekerja di ibukota Maladewa, Male. Mereka kebanyakan berasal dari Bangladesh, India dan Sri Lanka dan tinggal di gang-gang padat, yang merupakan surga bagi tempat hidup virus Corona.

"Ada ketidakpastian dan kepanikan yang sangat besar," kata Zakir Hossain, pria 39, yang telah bekerja di restoran Male, yang kemudian ditutup karena Corona.

Dia mengatakan dia belum dibayar lebih dari dua bulan. "Kami khawatir tentang penyakit ini. Semua pekerja Bangladesh hidup dalam kondisi yang macet," katanya.

Seperti banyak migran - yang berbagi kamar dan bahkan tempat tidur di antara shift - Hossain tinggal di satu kamar di jalan belakang bersama empat warga Bangladesh lainnya. Di luar, aparat keamanan menghentikan para pekerja yang hendak keluar ke jalanan.

"Kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Kami membutuhkan pekerjaan kami," kata Hossain. Dia biasanya mengirim sekitar 80 persen dari upah US$ 180 per bulannya kepada istri dan empat anaknya sebelum wabah.

Pihak berwenang mengakui kondisi di Male untuk pekerja migran memang buruk. Mereka mengatakan akan memindahkan ribuan orang ke perumahan yang lebih baik di luar ibukota.

Namun politisi oposisi telah mengkritik rencana tersebut, menyebut perlakuan terhadap pekerja seperti itu sebagai "tidak manusiawi".

Maladewa telah mencatat hampir 1.400 kasus Corona dari total penduduk 340.000, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara tetangga Sri Lanka yang berpenduduk 22 juta orang.

Beberapa ahli telah memperingatkan Maladewa memiliki risiko ribuan kasus lagi, kecuali ada tindakan yang diambil. Pihak berwenang mengatakan infeksi itu menyebar tiga kali lebih cepat di komunitas migran daripada di populasi lokal.

Sementara itu, empat kematian akibat virus Corona telah dilaporkan sejauh ini, termasuk satu orang Bangladesh. Namun desas-desus bahwa ratusan migran terjangkit virus ini telah menambah kekhawatiran di antara para migran.

Pemerintah telah memindahkan 3.000 pekerja migran ke tempat penampungan sementara di pulau industri Gulhi Falhu di luar Male.

Ribuan lainnya akan mengikuti, tetapi oposisi utama Partai Progresif Maladewa (PPM) telah menggambarkan fasilitas sebagai penjara. Buruh hampir tidak diizinkan keluar dari kamar, mereka bahkan tidak memiliki kipas di puncak musim panas, ketika suhu naik di atas 30 derajat Celcius (86 Fahrenheit).

"Perlakuan terhadap ekspatriat ini, sebagian besar warga negara Bangladesh, adalah tidak manusiawi," kata juru bicara PPM Mohamed Hussain Shareef.

Juru bicara pemerintah Mabrook Azeez mengatakan pihak berwenang telah membangun perumahan itu dalam upaya untuk mengurangi kepadatan di Male.

Menurut menteri luar negeri Abdullah Shahid, sekitar seribu orang Bangladesh yang tinggal secara ilegal di Maladewa telah dipulangkan. Sedangkan India telah mengambil kembali 4.000 orang yang kehilangan pekerjaannya.

(rdp/ita)