Mayat-mayat Menumpuk di Ekuador, Wali Kota: Corona Seperti Bom Meledak

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 15 Apr 2020 12:31 WIB
Gara-gara pandemi virus Corona, Kota Guayaquil, Ekuador,  sampai kehabisan peti mati. Alhasil, warga setempat terpaksa menggunakan peti mati berbahan kardus.
Foto: AP/Luis Perez

Otoritas kini memperkirakan jumlah korban jiwa akan mencapai lebih dari 3.500 orang di kota tersebut dalam beberapa bulan mendatang. Menurut Viteri, kota Guayaquil rentan akan virus Corona karena hubungan udaranya dengan Eropa. Terbukti, kasus pertama di Ekuador -- disebut sebagai pasien nol -- adalah seorang wanita Ekuador yang baru tiba dari Spanyol.

"Di sinilah bom meledak, di sinilah pasien nol tiba, dan karena itu adalah waktu liburan, orang-orang bepergian ke luar negeri, beberapa ke Eropa atau Amerika Serikat, dan orang-orang kami yang tinggal di Eropa datang ke sini," ujar Viteri.

Sampai akhirnya ketika kebijakan lockdown (penguncian) diumumkan, semua sudah terlambat. Mayat-mayat menumpuk di rumah-rumah, dan bahkan di jalan-jalan.

"Sistem kesehatan jelas kewalahan," kata wali kota berumur 54 tahun itu seraya menekankan bahwa otoritas Guayaquil "bukan penjahat dunia".

"Kami adalah korban virus yang datang melalui udara" yang menurutnya persis dengan demam kuning yang melanda kota itu setelah datang dari Panama lewat laut pada tahun 1842.

"Bom meledak di sini. Tempat-tempat lain hanya menerima gelombang kejut. Namun kawahnya tetap di sini di Guayaquil," tandasnya.

Halaman

(ita/ita)