27 Ribu Staf Cathay Pacific Diminta Cuti Tanpa Gaji karena Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 16:37 WIB
FILE - In this Thursday, Jan. 23, 2020 file photo, Passengers wear protective face masks at the departure hall of the high speed train station in Hong Kong.  Fear about the effects of a new virus found in China is spreading faster through financial markets around the world than the sickness itself. U.S. stocks fell to their biggest weekly loss since early October on worries that the new coronavirus could ultimately hurt travel and global economic growth. (AP Photo/Kin Cheung, File)
Para penumpang memakai masker wajah saat bepergian di tengah wabah virus corona di Hong Kong (AP Photo/Kin Cheung, File)
Hong Kong -

Maskapai penerbangan Hong Kong, Cathay Pacific Airways, meminta 27 ribu pegawainya untuk mengambil cuti tanpa gaji. Permintaan ini disampaikan saat maskapai ini menghadapi krisis akibat wabah virus corona yang juga melanda Hong Kong.

Seperti dilansir AFP, Rabu (5/2/2020), CEO Cathay Pacific Airways, Augustus Tang, dalam pesan video yang diposting secara online meminta puluhan ribu karyawan untuk mengambil cuti tanpa gaji selama tiga minggu.

"Saya berharap Anda semua akan berpartisipasi, dari pegawai garis terdepan hingga pemimpin senior kita dan bersama menghadapi tantangan terkini kita," ucap Tang.

Tahun lalu, Cathay Pacific Airways menghadapi masa-masa sulit akibat kekacauan politik dan unjuk rasa berkepanjangan di Hong Kong. Tahun ini, wabah virus corona melanda Hong Kong dan kembali berdampak pada operasional penerbangan Cathay.

Virus corona yang pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, China, pada Desember tahun lalu telah menyebar luas hingga ke puluhan wilayah dan negara di luar China. Hong Kong yang berstatus Wilayah Administrasi Khusus (SAR) mengonfirmasi 17 kasus virus corona, dengan satu pasien meninggal dunia.

Korban tewas akibat virus corona secara global sejauh ini telah mencapai 492 orang, dengan sebagian besar terjadi di wilayah China daratan. Secara global terkonfirmasi ada lebih dari 24.500 kasus virus corona yang tersebar di 26 negara, mulai dari Asia hingga kawasan Eropa dan AS.

Selanjutnya
Halaman
1 2