Presiden Suriname Divonis 20 Tahun Penjara Atas Pembunuhan 15 Musuh Politik

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 30 Nov 2019 12:19 WIB
Desi Bouterse (AP Photo/Ertugrul Kilic, File)

Tahun 2007 saat menyampaikan permintaan maaf publik pertamanya, Bouterse menyatakan menerima 'tanggung jawab politik' yang dipikulnya terkait pembunuhan itu. Namun dia menegaskan dirinya tidak hadir di lokasi eksekusi mati para korban di Fort Zeelandia, benteng kolonial di ibu kota Paramaribo.

Bouterse yang selalu menyangkal terlibat kasus pembunuhan yang disebut 'pembunuhan Desember' ini, menyatakan para korban ditahan karena merencanakan kudeta balasan dengan bantuan CIA dan ditembak saat berusaha kabur.

Dalam putusannya, hakim Cynthia Valstein-Montor yang memimpin sidang menyatakan Bouterse memainkan peran 'krusial' dalam pembunuhan itu. Disebutkan hakim Valstein bahwa Bouterse secara hati-hati mempersiapkan lokasi eksekusi mati para korban, yang menurut hakim, bisa dicegah oleh Bouterse sendiri.


Bukti-bukti yang dihadirkan pengacara Bouterse dalam sidang bertentangan dengan keterangan saksi mata yang menyebut Bouterse hadir saat para korban dibunuh di Fort Zeelandia pada Desember 1982 silam.

Para korban terdiri atas 13 warga sipil dan dua pejabat militer setempat, yang kerap mengkritik pemerintahan Bouterse. Korban juga termasuk sejumlah tokoh terkemuka di Suriname seperti sejumlah pengacara, beberapa jurnalis dan seorang profesor universitas setempat.

Pengacara keluarga korban, Hugo Essed, menegaskan Bouterse harus mundur segera. "Sungguh memalukan baginya untuk tetap menjabat presiden," tegas Essed.

Bouterse sebelumnya pernah divonis bersalah atas kasus perdagangan narkoba oleh sebuah pengadilan di Belanda tahun 1999. Saat itu dia lolos dari vonis 11 tahun penjara karena tidak bisa diekstradisi di bawah aturan hukum Suriname.
Halaman

(nvc/idh)