detikNews
Sabtu 23 November 2019, 04:18 WIB

Bentrok Pendemo dengan Polisi di Irak, 4 Orang Tewas

Eva Safitri - detikNews
Bentrok Pendemo dengan Polisi di Irak, 4 Orang Tewas Foto: Demonstrasi ricuh di Irak (AFP)
Baghdad - Empat orang pendemo anti-pemerintah tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di ibukota Irak. Bentrokan terjadi ketika ulama Syiah negara itu secara berterus terang mendorong para politisi untuk melakukan reformasi pemilihan.

Dilansir dari AFP Sabtu (23/11/2019), lebih dari 340 orang telah tewas dan ribuan lainnya terluka sejak demonstrasi menentang korupsi dan pengangguran yang meluas di Baghdad serta sebagian besar wilayah selatan Syiah bulan lalu. Selama berminggu-minggu, para demonstran menuntut agar pemerintah mundur tetapi para pemimpin menentang, alih-alih mengusulkan serangkaian langkah-langkah termasuk upaya perekrutan dan perbaikan sistem pemilihan Irak.


Para pengunjuk rasa menepis tawaran dan mempertahankan posisi duduk mereka di Lapangan Tahrir (Pembebasan) selama empat minggu berturut-turut. Pendemo telah menyebar ke jembatan hingga ke tepi barat sungai Tigris, daerah yang menjadi tempat parlemen, kantor perdana menteri, beberapa kementerian dan bank sentral serta kedutaan besar asing.

Pada hari Jumat (22/11) waktu setempat, pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan peluru langsung dari belakang tembok beton yang tebal untuk mencegah orang agar tidak menyeberang. Empat pendemo tewas, dua ditembak mati dan dua lainnya tewas akibat tabung gas air mata, kata seorang sumber medis kepada AFP.


Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengecam pasukan keamanan karena menembakkan granat gas kepada para pengunjuk rasa dengan cara yang bisa mematikan, bukan ke udara. Demonstran pun marah dengan kekerasan itu hingga menyebabkan aksi itu terus berlanjut meski ada permintaan dari otoritas Syiah terkenal di negara itu, atau marjaiyah, untuk demonstrasi secara damai.

"Marjaiyah melarang penembakan (terhadap demonstran), tetapi itu masih terjadi dan orang-orang masih sekarat," kata Ahmad Mohammad, seorang demonstran berusia 58 tahun di Tahrir.


Dalam khotbah singkat yang tidak biasa pada hari Jumat, Grand Ayatollah Ali Sistani mengulangi dukungannya untuk gerakan protes dan mendesak para politisi untuk memprioritaskan undang-undang pemilu yang baru.

"Marjaiyah menekankan perlunya bekerja dengan cepat untuk meloloskan undang-undang pemilihan dan undang-undang tentang komisi pemilihan," kata khotbah itu, yang dibacakan oleh seorang perwakilan di kota suci Karbala.
(eva/haf)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com