China Akui Tahan 2 Warga AS terkait Pelanggaran Aturan Perbatasan

China Akui Tahan 2 Warga AS terkait Pelanggaran Aturan Perbatasan

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 17 Okt 2019 19:21 WIB
Ilustrasi (Getty Images/AFP)
Ilustrasi (Getty Images/AFP)
Beijing - Pemerintah China mengakui pihaknya menahan dua warga negara Amerika Serikat (AS). Ditegaskan China bahwa penahanan ini tidak terkait dengan ketegangan diplomatik dan perang dagang antara kedua negara.

Seperti dilansir AFP, Kamis (17/10/2019), disebutkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, bahwa dua warga AS itu ditahan di Provinsi Jiangsu pada 29 September lalu dan kemudian dibebaskan dengan jaminan.

Kedua warga AS itu diidentifikasi sebagai Jacob Harlan dan Alyssa Peterson oleh perusahaan tempat keduanya bekerja, China Horizons yang berbasis di Idaho, AS. Keduanya diketahui mengelola sebuah perusahaan yang menyediakan tenaga pengajar bahasa Inggris, dari AS, di sekolah-sekolah China.


Disebutkan Geng dalam pernyataannya bahwa kedua warga AS itu ditahan atas kecurigaan 'mengatur orang lain untuk secara ilegal melewati perbatasan'. Keduanya disebut sedang menunggu persidangan untuk dakwaan tersebut.

Tidak disebut lebih lanjut oleh Geng soal kronologi kasus yang menjerat kedua warga AS itu, hanya disebutkan bahwa keduanya ditahan oleh otoritas keamanan publik China terkait pelanggaran aturan perbatasan. Geng menyatakan otoritas AS telah diberitahu secara berkala soal perkembangan kasus ini.

Pihak China Horizons dalam pernyataan via media sosial menegaskan bahwa perusahaannya sudah 17 tahun beroperasi di China dan tidak pernah ada masalah. China Horizons meyakini dakwaan yang dijeratkan terhadap Harlan dan Peterson adalah dakwaan 'palsu'.

Harlan diketahui merupakan pendiri China Horizons, sedangkan Peterson merupakan Associate Director pada China Horizons. Dalam penjelasan via halaman penggalangan dana, gofundme.com, untuk biaya hukum Harlan dan Peterson disebutkan bahwa China Horizons membantu mahasiswa-mahasiswa AS mendapatkan visa untuk mengajar bahasa Inggris di China.

"Karena meningkatnya persoalan politik dan ekonomi antara AS dan China, kami tidak bisa lagi mengirimkan tenaga pengajar ke China dengan aman," sebut China Horizons dalam pernyataannya, sembari menambahkan bahwa pihaknya berencana menutup bisnis tersebut pada akhir Oktober ini.


Diketahui bahwa kabar penahanan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik dan perang dagang China-AS. Geng dalam pernyataannya membantah bahwa penahanan dua warga AS terkait ketegangan itu. "Saya tidak melihat insiden ini memiliki keterkaitan spesifik dengan hubungan China-AS saat ini," tegasnya.

Secara terpisah, Departemen Luar Negeri AS mengakui pihaknya menyadari penahanan terhadap dua warganya di China. "Kami menyadari adanya penahanan dua warga AS di Jiangsu, China dan dakwaan-dakwaan yang dijeratkan terhadap mereka oleh pemerintah provinsi. Kami menganggap serius tanggung jawab kami untuk membantu warga AS di luar negeri dan memantau situasi," ujar pejabat Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya.

(nvc/dhn)