China: Pilot FedEx Amerika Ditahan Atas Dugaan Penyelundupan Senjata

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 20 Sep 2019 18:27 WIB
Todd Hohn dalam foto tahun 2016 saat masih menjadi pilot Angkatan Udara AS (Airman 1st Class Kirby Turbak/U.S. Air Force via AP)
Todd Hohn dalam foto tahun 2016 saat masih menjadi pilot Angkatan Udara AS (Airman 1st Class Kirby Turbak/U.S. Air Force via AP)
Beijing - Otoritas China mengonfirmasi penahanan seorang pilot Amerika Serikat (AS) yang bekerja untuk FedEx Corp. Disebutkan China bahwa pilot AS itu ditahan atas kecurigaan penyelundupan senjata dan amunisi, setelah kedapatan membawa beberapa butir peluru air gun di dalam tasnya.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (20/9/2019), pilot AS yang diidentifikasi bernama Todd Hohn itu merupakan mantan pilot Angkatan Udara AS. Pihak FedEx sebelumnya menyebut Hohn ditangkap di Guangzhou oleh otoritas China pekan lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, dalam pernyataannya menyebut pilot AS itu tiba di Guangzhou dengan menerbangkan pesawat kargo FedEx pada 11 September lalu.


Pada 12 September, pagi hari, otoritas bea cukai pada Bandara Guangzhou menemukan dan menyita satu kotak berisi 681 peluru senapan angin (air gun) di dalam tas bawaan pilot AS tersebut. Disebutkan Geng bahwa pilot AS itu ditangkap saat hendak terbang ke Hong Kong -- tempat tinggalnya -- dengan penerbangan komersial.

Pilot AS itu kemudian dibebaskan dengan jaminan setelah sempat ditahan. Ditambahkan Geng, pihak bea cukai Guangzhou melarang pilot AS itu meninggalkan China terkait 'dugaan menyelundupkan senjata dan amunisi'. Penyelidikan terhadap pilot AS itu terus dilanjutkan.

Penahanan pilot AS ini pertama kali dilaporkan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), yang menyebut Hohn tidak diperbolehkan meninggalkan China hingga penyelidikan selesai. Dalam pernyataannya, pihak FedEx menyebut mereka 'bekerja sama dengan otoritas terkait untuk mendapatkan pemahaman lebih baik soal fakta-fakta' seputar penangkapan pilot mereka.

Dalam konferensi pers, Geng juga menyatakan bahwa otoritas China telah memberitahu Konsulat AS di Guangzhou sehari setelah pilot AS ini ditahan.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menyatakan pihaknya tengah memantau perkembangan terbaru. "Kami menganggap serius tanggung jawab kami untuk membantu warga negara AS di luar negeri, dan terus memantau situasi," ujar pejabat Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya itu dalam email kepada Reuters.


Diketahui bahwa FedEx sedang menghadapi serangkaian penyelidikan di China. FedEx menuai kritikan karena ada ketidakberesan pengiriman terkait Huawei. Pada Mei lalu, pihak FedEx telah meminta maaf karena ada kesalahan pengiriman terhadap apa yang disebutnya sebagai 'sejumlah kecil' paket-paket Huawei.

Pada saat bersamaan, Huawei menyatakan akan mengkaji kerja sama dengan FedEx terkait insiden-insiden yang terjadi. Hasil penyelidikan pemerintah China pada Juni lalu menyatakan FedEx 'menahan' lebih dari 100 paket dari Huawei.

(nvc/ita)