Rusia Penjarakan 6 Anggota Saksi Yehuwa

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 20 Sep 2019 18:09 WIB
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Moskow - Otoritas Rusia memenjarakan enam anggota Saksi Yehuwa seiring Moskow terus melakukan operasi pemberantasan gerakan keagamaan tersebut.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/9/2019), dalam sidang putusan yang digelar pada Kamis (19/9) waktu setempat, enam orang tersebut dijatuhi vonis penjara antara dua tahun dan tiga setengah tahun.

Diketahui bahwa pemerintah Rusia melarang Saksi Yehuwa pada tahun 2017, menetapkan kelompok tersebut sebagai organisasi ekstremis. Sebelumnya baru satu anggota Saksi Yehuwa yang dipenjara di Rusia sejak otoritas melarang kelompok tersebut.


Pihak Saksi Yehuwa menyatakan dalam sebuah statemen, bahwa dalam persidangan di kota Saratov, Rusia barat pada Kamis (19/9) waktu setempat, hakim menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun enam bulan pada dua anggota gerakan tersebut, vonis penjara tiga tahun untuk seorang anggota dan sisanya mendapat hukuman dua tahun penjara.

"Seluruh logika tuduhan itu didasarkan pada tesis spekulatif bahwa iman kepada Tuhan adalah 'kelanjutan dari kegiatan organisasi ekstremis'," cetus juru bicara Saksi Yehuwa, Jarrod Lopes seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/9/2019).


"Dalam pernyataan final mereka, keenam orang tersebut mengutip Injil, berterima kasih pada pengadilan dan badan-badan penegak hukum, dan mengatakan bahwa mereka tidak memendam permusuhan terhadap para penindas," imbuhnya.


Kasus ini diproses secara hukum setelah penggerebekan sejumlah rumah yang dilakukan di Saratov pada Juni 2018. Tiga dari enam pria tersebut telah ditahan selama hampir setahun sebelum divonis bersalah.

Keenam anggota Saksi Yehuwa itu tetap dipenjara meski Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa para anggota kelompok tersebut harusnya tidak dipandang sebagai teroris.

Sebelumnya pada Mei lalu, pengadilan Rusia menguatkan vonis penjara enam tahun atas dakwaan ekstremisme bagi anggota Saksi Yehuwa, Dennis Christensen. Kasus itu menuai kecaman global saat itu. (ita/ita)