detikNews
Selasa 17 September 2019, 22:02 WIB

Round-Up

Iran Bela Houthi yang Bombardir Kilang Saudi

Tim detikcom - detikNews
Iran Bela Houthi yang Bombardir Kilang Saudi Kepulan asap terlihat dari fasilitas minyak Arab Saudi yang diserang drone (Foto: VIDEOS OBTAINED BY REUTERS/via REUTERS)
Teheran - Fasilitas-fasilitas minyak Arab Saudi dibombardir pesawat nirawak (drone) para pemberontak Houthi di Yaman. Presiden Iran Hassan Rouhani membela serangan pemberontak Houthi yang disebutnya hampir tiap hari dibombardir.

"Yaman merupakan target bombardir setiap hari... Rakyat Yaman terpaksa untuk merespons, mereka hanya membela diri mereka," ujar Rouhani dalam konferensi pers di Ankara saat kunjungannya ke Turki seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (17/9/2019).

Serangan drone pemberontak Houthi yang terjadi pada Sabtu (14/9) itu menargetkan fasilitas minyak di Abqaiq dan Khurais. Dua fasilitas utama Aramco yang terletak di wilayah Saudi bagian timur pada Sabtu (14/9) dini hari waktu setempat.


Pemerintah Iran juga telah membantah berada di balik serangan drone tersebut. Teheran menyebut bahwa pemerintahan Trump tengah mencari-cari dalih untuk menjustifikasi serangan balasan terhadap negara republik Islam itu.

Beberapa bulan terakhir, pemberontak Houthi meningkatkan serangan lintas-perbatasan, baik dengan rudal maupun drone, yang menargetkan pangkalan udara Saudi atau fasilitas lainnya. Serangan semacam ini disebut sebagai pembalasan atas operasi militer pimpinan Saudi di Yaman.

Presiden Iran Hassan RouhaniPresiden Iran Hassan Rouhani Foto: Official President website/Handout via REUTERS

Terkait serangan ini, militer Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan respons atas serangan drone pemberontak Houthi. Hal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS Mark Esper usai bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Esper secara khusus menyebut Iran merusak tatanan internasional, tanpa secara langsung menyalahkan Teheran atas serangan drone tersebut.




"Militer Amerika Serikat, dengan tim antarbadan kami, sedang bekerja sama dengan mitra-mitra kami untuk mengatasi serangan yang belum pernah terjadi ini dan mempertahankan tatanan berbasis aturan internasional yang sedang dirusak oleh Iran," demikian cuitan Esper di Twitter seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (17/9/2019).

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah mengklaim serangan drone tersebut. Namun pemerintah AS menolak klaim tersebut. Trump menyebut bahwa Iran tampaknya bertanggung jawab atas serangan drone tersebut.

Di Twitter, Trump mengatakan "ada alasan untuk percaya bahwa kita tahu pelakunya," dan menambahkan bahwa Washington "sudah siap perang", sambil menunggu informasi lebih lanjut dari Arab Saudi.


Lokasi kilang minyak Saudi yang diserang drone HouthiLokasi kilang minyak Saudi yang diserang drone Houthi Foto: DW (News)

Inilah pertama kalinya Trump menyatakan siap mengerahkan militer AS untuk menjawab serangan ke kilang minyak Saudi Aramco yang menyebabkan produksi minyaknya bisa turun sampai setengahnya. Citra satelit yang dirilis AS dan diperiksa kantor berita AP menunjukkan sekitar 17 "titik sasaran ledakan" di fasilitas pemrosesan minyak di Abqaiq. Dua titik ledakan lainnya ditemukan di fasilitas Khura Saudi.

Terkait konflik ini, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta dihentikannya konflik berkepanjangan di Yaman dengan mengutip ayat suci Alquran.

Saat berbicara di Ankara, Turki bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada Senin (16/9) waktu setempat, Putin menyampaikan ayat dari Surah al-Imran, meminta pihak-pihak yang bertikai di Yaman untuk berdamai.


"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara," kata Putin seperti dikutip media Russia Today (RT), Selasa (17/9/2019).

Diketahui bahwa Arab Saudi dan koalisi negara-negara Teluk telah melancarkan serangan-serangan udara terhadap pemberontak Houthi di Yaman sejak tahun 2015. Diperkirakan ratusan ribu warga sipil tewas dalam lima tahun terakhir. Perang juga telah menghancurkan banyak infrastruktur di negeri miskin itu, hingga membuat Yaman mengalami krisis kemanusiaan parah.

Konflik yang awalnya merupakan perang saudara antara para pemberontak Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Saudi itu, meningkat menjadi perang udara yang dipimpin Saudi dan koalisi pada tahun 2015, lalu berubah menjadi invasi darat.
(jbr/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com