Kisah Perawat Venezuela Bergaji Seratus Ribuan Mencoba Bertahan Hidup

Kisah Perawat Venezuela Bergaji Seratus Ribuan Mencoba Bertahan Hidup

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 30 Agu 2019 18:08 WIB
Foto: Reuters
Foto: Reuters
Caracas - Krisis ekonomi parah yang melanda Venezuela menyebabkan warga negeri itu harus banting tulang untuk menyambung hidup. Banyak warga yang harus melakukan lebih dari satu pekerjaan.

Edgar Fernandez, misalnya, pria yang bekerja sebagai perawat ini memanfaatkan kemampuannya bernyanyi demi bertahan hidup. Sebagai perawat, pria itu hanya mendapat gaji US$ 10 (sekitar Rp 141.800) per bulan.

"Gaji perawat tak ada artinya," ujar Fernandez seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (30/8/2019). Dikatakannya, gaji yang diperolehnya dari bekerja 12 jam sehari itu "tak bisa untuk membeli apapun."


Pria berumur 40 tahun itu pun sehari-harinya terpaksa tinggal di rumah sakit Perez Carreno, tempatnya bekerja, karena tak sanggup menyewa rumah. Di rumah sakit, dia tidur hanya beralaskan kasur kotor.

Selain bekerja sebagai perawat, Fernandez kerap bernyanyi di bar-bar dan rumah-rumah, dan kadang kala disewa oleh bekas pasien. Ketika acara nyanyinya bersamaan dengan jadwal shift kerjanya, maka dia harus membayar rekan kerjanya untuk menggantikan dirinya.

Meski hidup prihatin, Fernandez tetap berharap untuk suatu saat nanti dia bisa memiliki album rekaman dan menjadi penyanyi terkenal.

Cerita senada disampaikan Francis Guillen, perawat yang menjual hairspray buatan sendiri di pasar Catia di Caracas.

"Jika saya tidak mendapat pekerjaan lain, saya tidak tahu bagaimana jadinya saya," kata perempuan berumur 30 tahun itu yang dalam sehari menjual hairspray bisa mendapatkan setara dengan gaji sebulannya sebagai perawat.


Suami Guillen yang berhenti dari pekerjaannya sebagai petugas pemadam kebakaran, membantu dirinya dalam bisnis hairspray ini. Kadang-kadang ayahnya, yang juga seorang perawat, membantunya mencampur bahan-bahan kimia dalam sebuah ember untuk dijadikan hairspray.

Guillen mengatakan dirinya sebenarnya ingin berhenti menjadi perawat. Namun keinginannya untuk melayani sesama warga negaranya, membuatnya bertahan, terlebih lagi di saat negaranya kekurangan tenaga perawat. Sejak Juni 2018, sekitar 15 ribu perawat di Venezuela -- atau sekitar 40 persen -- telah berhenti dan banyak dari mereka yang pindah ke negara lain.

Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 3,3 juta warga Venezuela telah meninggalkan negeri itu sejak awal tahun 2016 akibat hiperinflasi yang melanda. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa tingkat inflasi di negara kaya minyak itu akan mencapai satu juta persen tahun ini. (ita/ita)