Media China Sebut Pegawai Konsulat Inggris Ditahan terkait Prostitusi

Media China Sebut Pegawai Konsulat Inggris Ditahan terkait Prostitusi

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Agu 2019 19:16 WIB
Foto Simon Cheng yang dilaporkan hilang saat berkunjung ke Shenzhen dan diklaim ditahan oleh otoritas China (Anthony WALLACE/AFP)
Foto Simon Cheng yang dilaporkan hilang saat berkunjung ke Shenzhen dan diklaim ditahan oleh otoritas China (Anthony WALLACE/AFP)
Beijing - Seorang pegawai Konsulat Inggris di Hong Kong ditahan oleh otoritas China saat berkunjung ke Shenzhen, dekat perbatasan Hong Kong. Media terkemuka China menyebut pegawai konsulat itu terlibat prostitusi dalam kunjungannya ke Shenzhen.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (22/8/2019), Kementerian Luar Negeri China telah mengonfirmasi bahwa seorang pegawai Konsulat Inggris di Hong Kong ditahan di kota perbatasan, Shenzhen, yang hanya berjarak 1 jam perjalanan darat dari Hong Kong. Inggris menyampaikan kekhawatiran besar terkait penahanan ini.

Otoritas China tidak menyebut lebih lanjut identitas pegawai konsulat yang ditahan itu, hanya menegaskan bahwa dia adalah warga negara Hong Kong. Pihak keluarga menyebutnya bernama Simon Cheng.


Surat kabar Global Times, yang didukung pemerintah pusat China dan dipublikasikan oleh People's Daily -- media resmi Partai Komunis yang berkuasa di China, mengutip keterangan Kepolisian Shenzhen yang menyebut Cheng ditahan selama 15 hari karena 'meminta prostitusi'.

Kepolisian Distrik Luohu di Shenzhen, seperti dikutip Global Times, menyebut Cheng telah melanggar Pasal 66 Undang-Undang Hukuman Administrasi Keamanan Publik. Di bawah undang-undang itu, orang-orang yang terlibat prostitusi atau mengunjungi tempat prostitusi akan ditahan tidak kurang dari 10 hari namun tidak lebih dari 15 hari. Mereka juga bisa dihukum denda sebesar 5 ribu Yuan (Rp 10 juta).

Saat ditanyai tanggapan lebih lanjut, Kepolisian Shenzhen menolak berkomentar dan menyebut seluruh laporan Global Times sudah menyebutkan informasi detail soal penahanan pegawai konsulat itu.


Cheng diketahui bepergian ke Shenzhen untuk menghadiri pertemuan bisnis selama satu hari pada 8 Agustus lalu. Malam harinya, Cheng seharusnya pulang ke Hong Kong dengan kereta cepat. Dia sempat mengirimkan pesan kepada kekasihnya, yang isinya menyebut dia hendak melewati pemeriksaan cukai.

"Kami kehilangan kontak dengannya setelah itu," demikian pernyataan keluarga Cheng via Facebook.

Penahanan Cheng ini terjadi saat unjuk rasa besar-besaran masih berlanjut di Hong Kong, yang berstatus Wilayah Administrasi Khusus. Unjuk rasa itu awalnya memprotes rancangan undang-undang (RUU) yang mengatur ekstradisi ke China daratan, namun kemudian meluas menjadi seruan reformasi demokratik.

Beberapa waktu terakhir, China memperingatkan Inggris dan negara-negara Barat lainnya untuk tidak mencampuri urusan Hong Kong.

(nvc/jbr)