detikNews
Rabu 21 Agustus 2019, 22:25 WIB

Round-Up

Serangan dalam Pamitan Perdana Menteri Italia

Tim detikcom - detikNews
Serangan dalam Pamitan Perdana Menteri Italia PM Italia Giuseppe Conte Mengundurkan Diri. (Foto: REUTERS/Yara Nardi)
Jakarta - Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengundurkan diri. Conte yang baru menjabat selama 14 bulan mengundurkan diri untuk menghindari rasa tidak percaya yang diajukan wakilnya yaitu Matteo Salvini.

Dalam agenda pamitannya itu, Conte melontarkan 'peluru' secara langsung ke Salvini. Dia menilai Salvini mengikuti kepentingan pribadi dalam langkah politiknya.

"(Salvini) telah menunjukkan bahwa dia mengikuti kepentingannya sendiri dan kepentingan partainya. Keputusannya menimbulkan risiko serius bagi negara ini," kata Conte di hadapan para senat di gedung Parlemen, Roma, Italia, seperti dilansir Reuters, Selasa (20/8/2019).



Conte menyebut Salvini membawa Italia pada ketidakpastian politik serta ekonomi. Apalagi, seruan Salvini untuk dilakukan pemilihan cepat sebagai dianggap Conte sebagai sebuah kecerobohan.

"Bertanggung jawab untuk mengarahkan negara ke dalam spiral ketidakpastian politik dan ketidakstabilan keuangan," ucap Conte.

Dalam karier politiknya, Conte tidak berasal dari dua partai koalisi. Dia mengatakan akan menyerahkan pengunduran dirinya nanti sembari menunggu Presiden Italia Sergio Mattarella melakukan konsultasi dengan pihak-pihak untuk kemungkinan membuat koalisi baru.

Apabila 'strategi' itu gagal, maka Mattarella harus membubarkan parlemen, 2 tahun lebih cepat dari jadwal agar pemilihan besar bisa digelar pada awal musim gugur.



Dalam sejarahnya, Italia belum pernah menggelar pemilihan di musim gugur sejak Perang Duni II. Hal itu dikarenakan pada bulan-bulan akhir tahun kerap digunakan menyusun anggaran. Momen itu jadi agenda penting bagi Italia yang dinilai menjadi negara dengan utang terbesar di dunia.

Salvani mengaku siap untuk menjaga koalisi tetap hidup untuk menyetujui anggaran 2020. Dia pun mengaku siap bila ada reformasi parlemen apabila pemilihan digelar lebih awal.

"Apakah Anda ingin memotong jumlah anggota parlemen dan kemudian memilih? Kami siap untuk itu. Jika Anda kemudian ingin memberikan anggaran yang berani, maka kami siap untuk itu juga," kata Salvini.



Namun, skenario seperti itu sulit dibayangkan mengingat saling tuding terbang antara dua mitra koalisi.

Sementara itu, Presiden Mattarella cenderung mendorong keputusan cepat oleh 5-Star dan PD tentang apakah mereka dapat bekerja sama. Jika gagal, ia mungkin akan membubarkan parlemen dan memberikan suara pada akhir Oktober atau awal November.
(idn/dkp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com