detikNews
Minggu 18 Agustus 2019, 15:44 WIB

Bom Meledak Saat Resepsi Pernikahan di Afghanistan, 63 Orang Tewas

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Bom Meledak Saat Resepsi Pernikahan di Afghanistan, 63 Orang Tewas Foto: Kondisi lokasi usai bom meledak (REUTERS/Mohammad Ismail)
Jakarta - Seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di sebuah acara resepsi pernikahan di Afghanistan. Ledakan ini menewaskan 63 orang dan melukai 182 orang.

Sebagaimana dilansir dari kantor berita Rueters, Minggu (18/8/2019), aksi tersebut terjadi pada Sabtu malam. Menurut Kementerian dalam negeri Afganistan, tragedi bom bunuh diri ini dilakukan di sebuah acara resepsi pernikahan di Ibukota Kabul, Afghanistan.

Serangan tersebut terjadi ketika Taliban dan Amerika Serikat (AS) sedang berusaha untuk menegoisasikan kesepakatan terkait penarikan pasukan AS. Negoisasi ini merupakan imbalan atas komitmen Taliban pada pembicaraan soal keamanan dan perdamaian dengan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.


Taliban menolak bertanggung jawab kejadian ini. Mereka justru mengutuk ledakan di aula pernikahan Kabul barat itu. Karena di sana ada lingkungan minoritas Syiah, yang juga hadir dalam acara pernikahan.

"Wanita dan anak-anak termasuk di antara korban," kata juru bicara kementerian dalam negeri Nasrat Rahimi.

Namun Presiden Ashraf Ghani mengatakan para militan tidak bisa lolos dari tuduhan atas serangan 'biadab' tersebut. Menurutnyam justru Talibanlah yang jadi biang keladi tragedi ini.

"Taliban tidak dapat membebaskan diri dari kesalahan karena mereka menyediakan platform untuk teroris," katanya dalam sebuah posting di Twitter.

Ledakan itu terjadi usai serangan bom di sebuah masjid di Pakistan pada hari Jumat (16/8/2019) lalu, yang menewaskan seorang saudara pemimpin Taliban Haibatullah Akhundzada. Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang menewaskan empat orang dan melukai sekitar 20 orang itu.

Gambar-gambar di media sosial dari tempat ledakan Kabul menunjukkan tubuh berserakan di tengah meja dan kursi terbalik di aula pernikahan, dengan noda darah gelap di karpet. Residen Mohammad Hasan bergegas ke tempat kejadian setelah ledakan mengguncang.

"Saya melihat banyak wanita dan anak-anak menjerit dan menangis," katanya.


Untuk diketahui, aula pernikahan telah menjadi bisnis besar di Kabul lantaran ekonomi Afghanistan perlahan mulai meningkat. Keluarga membelanjakan lebih banyak untuk perayaan. Aula besar yang terang benderang kini berjejer di beberapa jalan pinggiran kota. Sebelumnya, pada bulan November bom juga pernah menyerang sebuah aula pernikahan di Afganistan. Setidaknya, saat itu 40 orang dilaporkan tewas.

Militan Negara Islam juga beroperasi di Afghanistan dan telah melakukan serangan berdarah di kota-kota besar, beberapa di antaranya ditujukan kepada anggota minoritas Syiah.
(rdp/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com