detikNews
Kamis 08 Agustus 2019, 01:39 WIB

14 Orang Tewas dan 145 Terluka dalam Serangan Bom Taliban di Kabul

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
14 Orang Tewas dan 145 Terluka dalam Serangan Bom Taliban di Kabul (Foto: Ilustrasi/Thinkstock)
Kabul - Ledakan bom terjadi di Kabul Afghanistan. 14 orang tewas dan 145 lainnya terluka akibat ledakan bom tersebut.

Dilansir dari AFP, Rabu (7/8/2019), ledakan bom terjadi pada Rabu pukul 09.00 waktu setempat. Pertumpahan darah di ibu kota ini terjadi di tengah gelombang serangan yang berkelanjutan di seluruh Afghanistan. Sekitar 1.500 orang tewas atau terluka pada bulan lalu.

Asap hitam membumbung di Kabul barat setelah ledakan besar-besaran di pintu masuk ke kompleks polisi.



Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan ledakan disebabkan oleh bom mobil. Tetapi Taliban yang mengklaim serangan itu mengatakan itu adalah bom truk.

Gambar di media sosial menunjukkan dinding yang meledak di sekitar beberapa bangunan yang hancur.

Pihak berwenang Afghanistan mengatakan setidaknya 10 warga sipil dan empat polisi tewas. Sementara itu 145 orang terluka termasuk 92 warga sipil.

"Ketika udara cerah, saya melihat beberapa wanita menangis, mencari suami atau anak-anak mereka di dekat lokasi ledakan," kata wartawan lokal Zakeria Hasani, yang tinggal di dekat kantor polisi, kepada AFP.

Penjaga toko Ahmad Saleh mengatakan jendela tokonya meledak, gelas beterbangan.

"Kepalaku berputar dan aku masih tidak tahu apa yang terjadi tetapi jendela sekitar 20 toko sekitar satu kilometer dari lokasi ledakan rusak," katanya.

Amerika Serikat dan Taliban bertemu di Doha minggu ini untuk perundingan putaran kedelapan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan damai yang akan memangkas kehadiran militer Amerika di Afghanistan.

Terlepas dari pertumpahan darah yang melanda negara tersebut, kedua belah pihak telah menyebut 'kemajuan luar biasa'.

Serangan itu terjadi setelah Taliban memperingatkan warga Afghanistan pada Selasa untuk menjauh dari pertemuan publik sebelum pemilihan presiden yang direncanakan 28 September.

Taliban memerintahkan pejuang mereka untuk 'menentang' jajak pendapat, dan pemilihan sebelumnya diguncang oleh serangan yang sering dilakukan oleh gerilyawan yang mencoba merusak demokrasi Afghanistan yang rapuh.

Lebih dari 1.500 warga sipil tewas atau terluka dalam konflik Afghanistan pada Juli. Menurut PBB, itu merupakan korban bulanan tertinggi sejauh ini pada tahun ini dan satu bulan terburuk sejak Mei 2017.
(knv/eva)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com