detikNews
Selasa 16 Juli 2019, 19:02 WIB

Keluarga Korban Ethiopian Airlines Serukan Boeing 737 MAX Disingkirkan

Novi Christiastuti - detikNews
Keluarga Korban Ethiopian Airlines Serukan Boeing 737 MAX Disingkirkan Paul Njoroge kehilangan istri, tiga anak dan ibu mertua dalam tragedi Ethiopian Airlines (AP Photo/Teresa Crawford, File)
Chicago - Keluarga korban tragedi Ethiopian Airlines menyerukan agar pesawat Boeing 737 MAX disingkirkan. Para pejabat eksekutif Boeing juga diminta untuk mengundurkan diri dan menghadapi dakwaan pidana.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (16/7/2019), seruan ini dilontarkan Paul Njoroge yang kehilangan istri, ibu mertua dan tiga anaknya yang masih kecil dalam tragedi Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret lalu. Njoroge akan memberikan testimoni di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (17/7) waktu setempat.

Njoroge diketahui lahir di Kenya, namun kini tinggal di Toronto, Kanada dan bekerja sebagai konsultan investasi profesional. Dia kehilangan istrinya yang bernama Carol, kemudian tiga anaknya yang bernama Ryan (6), Kelli (4) dan Rubi yang baru berusia 9 bulan, serta ibu mertuanya atau ibunda dari istrinya.


Keluarga Njoroge tewas saat terbang ke Kenya dengan Ethiopian Airlines pada 10 Maret lalu untuk mengunjungi keluarga. Seorang pengacara di Chicago, Robert Clifford, mewakili Njoroge dan keluarga korban tragedi Ethiopian Airlines lainnya dalam menggugat Boeing atas kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 MAX tersebut.

Dalam wawancara terbaru, Njoroge menyatakan bahwa seluruh pesawat Boeing 737 MAX seharusnya di-grounded setelah terjadi kecelakaan Lion Air JT 610 di Indonesia pada Oktober 2018. Namun faktanya, Boeing tetap membiarkan pesawat jenis itu mengudara hingga terjadi kecelakaan lainnya di Ethiopia pada Maret lalu, atau lima bulan kemudian. Njoroge menyayangkan Boeing dan Otoritas Penerbangan Federal AS atau FAA yang tidak tegas sejak awal.

"Pesawat-pesawat ini seharusnya di-grounded pada November (2018) dan hari ini saya akan menikmati musim panas bersama keluarga saya, saya akan bermain futbol dengan putra saya," ucap Njoroge dalam wawancara itu.


Njoroge akan menjadi keluarga korban yang pertama, dari total 346 korban tewas tragedi Lion Air dan Ethiopian Airlines, yang memberikan keterangan di depan Kongres AS. Nantinya, Njoroge akan didampingi oleh Michael Stumo, yang kehilangan putrinya, Samya, dalam tragedi Ethiopian Airlines.

Boeing 737 MAX baru di-grounded secara global setelah dua tragedi terjadi. Hingga kini, pihak Boeing masih mengupayakan perbaikan software setelah persoalan pada sistem kendali penerbangan diyakini berkontribusi pada dua kecelakaan tersebut. Masih belum jelas kapan Boeing 737 MAX bisa mengudara lagi.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikannya kepada Komisi Penerbangan House of Representatives (HOR) AS, Njoroge menyatakan bahwa keluarga korban punya sejumlah tuntutan yang harus dipenuhi sebelum Boeing 737 MAX diperbolehkan mengudara lagi. Salah satunya adalah review baru dan menyeluruh oleh otoritas penerbangan global.

Namun dalam wawancara, Njoroge menyerukan agar Boeing 737 MAX tidak diperbolehkan terbang lagi karena hal yang disebutnya sebagai cacat desain yang tidak bisa diperbaiki.

Ukuran dan penempatan mesin pesawat meningkatkan risiko adanya aerodynamic stall -- kondisi pesawat kehilangan gaya angkat saat mengudara -- sehingga Boeing merancang software pengendali penerbangan bernama MCAS. Laporan-laporan awal mengindikasikan MCAS malah mendorong hidung pesawat ke bawah dalam dua tragedi Lion Air dan Ethiopian Airlines. Boeing tengah berupaya memperbaiki software agar MCAS lebih dapat diandalkan dan mudah dikendalikan.


Namun diketahui bahwa Boeing tidak memberitahu pilot-pilot pengguna Boeing 737 MAX soal MCAS hingga terjadi tragedi Lion Air tahun lalu. "Mereka (Boeing-red) tidak ingin orang-orang tahu soal cacat desain itu dan itulah mengapa mereka menyembunyikan keberadaan MCAS," sebut Njoroge.

"Saya ingin melihat (CEO Boeing) Dennis Muilenburg dan para pejabat eksekutif mengundurkan diri, karena mereka yang menyebabkan kematian 346 orang," tegas Njoroge merujuk pada jumlah total korban tewas tragedi Lion Air dan Ethiopian Airlines.

"Mereka harus bertanggung jawab secara pidana atas kematian istri saya dan anak-anak saya dan ibu mertua saya dan 152 orang lainnya dalam kecelakaan Ethiopian Airlines nomor penerbangan 302 karena itu sebenarnya bisa dicegah," ujarnya.


Lebih lanjut, Njoroge menuduh Boeing berupaya menyalahkan para pilot asing di Indonesia dan Ethiopia utnuk menghindari grounded terhadap Boeing 737 MAX. Menurut Njoroge, hal itu sungguh 'penuh prasangka'.

Diketahui bahwa setelah tragedi Lion Air, Boeing merilis buletin kepada para pilot yang isinya mengingatkan soal instruksi Boeing dalam menangani situasi saat hidung pesawat turun ke bawah. Setelah tragedi Ethiopian Airlines, CEO Boeing menyebut para pilot tidak sepenuhnya mematuhi prosedur. Padahal laporan awal mengindikasikan pilot Ethiopian Airlines berupaya mematuhi prosedur hingga saat-saat terakhir namun tidak bisa mengendalikan pesawat.


CEO Boeing telah berulang kali meminta maaf -- melalui pernyataan tertulis di publik -- kepada keluarga korban. Namun Njoroge menyatakan dirinya sama sekali belum menerima ucapan belasungkawa secara personal.

"Akan sangat penting jika para pejabat eksekutif Boeing bisa bertemu langsung dengan keluarga korban dan meminta maaf kepada mereka. Itu akan membantu," tandasnya.



Simak Juga 'Belum Selesai Digrounded, FAA Temukan Masalah Baru di Boeing 737':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "KNKT 'Wanti-wanti' Lion Air hingga Boeing Cegah Kecelakaan"
[Gambas:Video 20detik]

(nvc/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com