detikNews
Selasa 16 Juli 2019, 18:14 WIB

Tanda Tangani UU Antipelecehan Seksual, Duterte Malah Dikritik

Novi Christiastuti - detikNews
Tanda Tangani UU Antipelecehan Seksual, Duterte Malah Dikritik Rodrigo Duterte (BBC Magazine)
Manila - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menuai kritikan setelah menandatangani undang-undang (UU) baru yang mengatur hukuman untuk tindak pelecehan seksual. Para aktivis wanita meragukan penerapan UU ini karena Duterte sendiri terjerat berbagai kasus pelecehan seksual.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/7/2019), Duterte sebelumnya sempat membuat publik marah saat melontarkan lelucon soal pemerkosaan yang dinilai merendahkan wanita. Para aktivis menilai sikapnya yang dianggap misoginis atau yang dianggap membenci wanita, akan membuat implementasi aturan itu menjadi hal yang menantang.

Menurut keterangan tertulis yang dirilis Senin (15/7) waktu setempat, Duterte menandatangani UU yang melarang perilaku seperti catcalling atau bersiul untuk menggoda orang lain dan melontarkan celetukan-celetukan seksis pada April lalu.


Penandatanganan itu menuai kritikan karena Duterte yang kini berusia 74 tahun, pernah beberapa kali dituduh atas tindak pelecehan seksual.

"Duterte adalah pelanggar tunggal paling kurang ajar terhadap aturan hukum itu dengan pernyataan-pernyataannya yang macho-fasis," demikian pernyataan organisasi yang memperjuangkan isu-isu wanita di Filipina, Gabriela, dalam pernyataan via Twitter. Gabriela merupakan kependekan dari General Assembly Binding Women for Reforms, Integrity, Equality, Leadership and Action.

"Di bawah konteks ini, menerapkan UU itu tentu akan menjadi sebuah tantangan," imbuh pernyataan Gabriela.

UU baru itu mengatur hukuman denda dan dalam beberapa kasus, mengatur hukuman penjara untuk tindak pelecehan seksual di jalanan, sekolah dan kantor. Tindak pelecehan seksual yang dilarang termasuk bersiul menggoda orang lain, meraba, melontarkan celetukan vulgar, memberikan komentar atau perilaku yang menghina penampilan seseorang.


Senator oposisi Filipina, Risa Hontiveros, yang menyusun UU itu menyambut pengesahan ini dengan menyebut UU ini akan menutup celah dalam legislasi sebelumnya soal pelecehan seksual. Namun Hontiveros menyebut UU itu hanya akan baik jika penerapannya dilakukan sebaik mungkin.

Diketahui bahwa di masa lalu, Duterte kerap menuai kontroversi dengan komentar-komentarnya soal wanita. Tahun 2016, Duterte bersiul ke arah seorang jurnalis wanita saat hadir dalam konferensi pers yang disiarkan televisi-televisi nasional Filipina.

Pada tahun yang sama, Duterte memicu kemarahan publik saat dia mengatakan pernah ingin memperkosa misionaris Australia yang 'cantik' yang menjadi korban kekerasan sosial dan kemudian dibunuh dalam kerusuhan penjara di Filipina.

Tahun 2018 lalu, Duterte mencium bibir seorang wanita Filipina saat menghadiri pertemuan dengan warga Filipina di Korea Selatan. Masih tahun lalu, Duterte menyerukan para tentara Filipina untuk menembak milisi-milisi wanita di bagian alat vital mereka.


Jurnalis dan aktivis wanita, Inday Espina-Varona, menjuluki Duterte sebagai 'panglima misoginis (pembenci wanita)'. Menurutnya, UU antipelecehan seksual 'tertunda sejak lama' dan pengesahan yang dilakukan Duterte 'hanya memperjelas kebenaran: dia (Duterte-red) meyakini dirinya di atas hukum'.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, menegaskan Duterte akan mematuhi UU tersebut namun dia menolak dituduh misoginis. "Saat dia melontarkan lelucon, itu dimaksudkan untuk membuat orang-orang tertawa, bukan untuk menyinggung," cetus Panelo.

"Anda, wanita, seharusnya tahu itu. Misoginis berbeda dari membuat orang-orang tertawa," tandasnya.



Simak Video "Menyusui Massal Demi Masa Depan Si Buah Hati"
[Gambas:Video 20detik]

(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed