detikNews
Jumat 12 Juli 2019, 10:10 WIB

Buntut Dua Tragedi Maut, Kepala Program Boeing 737 MAX akan Pensiun

Novi Christiastuti - detikNews
Buntut Dua Tragedi Maut, Kepala Program Boeing 737 MAX akan Pensiun Eric Lindblad (AP Photo/Elaine Thompson, File)
Chicago - Kepala program Boeing 737 MAX, yang pesawatnya di-grounded secara global usai dua tragedi maut, berencana untuk pensiun dalam waktu dekat. Rencana pensiun ini diumumkan saat Boeing tengah berupaya mengesankan otoritas penerbangan agar Boeing 737 MAX bisa kembali mengudara.

Diketahui bahwa Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat terbaru dan paling laku buatan Boeing, tengah di-grounded secara global usai terlibat dua tragedi jatuhnya Lion Air JT 610 pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret 2019 yang menewaskan total 346 orang.

Seperti dilansir AFP, Jumat (12/7/2019), Eric Lindblad yang memimpin program Boeing 737 MAX sejak Agustus 2018, diumumkan akan mundur dari jabatannya dan akan bekerja sama dengan penggantinya selama masa transisi. Rencana pensiun Lindblad ini diumumkan oleh Presiden Pesawat Terbang Komersial pada Boeing, Kevin McAllister, dalam memo kepada staf-staf Boeing pada Kamis (11/7) waktu setempat.

Di sisi lain, rencana pensiun Lindbland ini menandai pengunduran diri paling high-profile dari kalangan pejabat senior eksekutif Boeing sejak 737 MAX di-grounded secara global pada pertengahan Maret lalu.


Pihak Boeing telah meminta maaf atas tragedi maut Lion Air dan Ethiopian Airlines dan mengakui adanya kegagalan komunikasi dengan otoritas-otoritas penerbangan. Namun para pejabat tinggi Boeing, termasuk CEO Dennis Muilenburg, masih tetap menjabat di tengah krisis yang dialami raksasa dirgantara Amerika Serikat (AS) ini.

"Ini merupakan masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kita, mengingat fokus utama kita tetap pada kembali mengudaranya 737 MAX dan mengutamakan kualitas dan keamanan dalam segala hal yang kita lakukan," sebut McAllister dalam memo tersebut.

Boeing dikritik besar-besaran dan secara luas atas pengembangan pada 737 MAX, khususnya untuk sistem penanganan penerbangan yang disebut Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver atau MCAS yang dipandang sebagai faktor yang berkontribusi pada tragedi maut Lion Air dan Ethiopian Airlines.


Dalam memonya, McAllister memuji Lindblad yang disebutnya memiliki 'kepemimpinan yang kuat dan semangat tanpa lekang dimakan waktu' sejak memimpin program Boeing 737 MAX kurang dari setahun lalu.

"Lindblad mengungkapkan kepada saya soal keinginannya untuk pensiun tahun lalu dan kita sekarang akan memulai rencana transisi yang bijaksana dan lancar," tulis McAllister dalam memonya.

Mark Jenks yang disebut sebagai pejabat veteran Boeing, disebutkan akan menggantikan Lindblad. Sebelumnya Jenks memimpin upaya Boeing dalam mengembangkan pesawat komersial ukuran sedang. Memo itu tidak menyebut lebih lanjut waktu serah terima jabatan antara Lindblad dan Jenks.

Lebih lanjut, McAllister menyebut pejabat eksekutif Boeing lainnya, Mike Sinnett, yang banyak mengurusi strategi produk dan pengembangan pesawat terbang di masa depan, akan memikul tugas-tugas Jenks untuk sementara, sembari upaya untuk mengembalikan Boeing 737 MAX ke layanan terus dilakukan.


Diketahui bahwa Boeing telah mengembangkan perbaikan software untuk sistem MCAS pada Boeing 737 MAX. Namun pesawat jenis itu belum mendapatkan izin dari otoritas penerbangan, khususnya Otoritas Penerbangan Federal AS atau FAA untuk kembali mengudara.

Akhir bulan lalu, FAA menemukan masalah baru saat melakukan uji coba simulator pada Boeing 737 MAX. FAA meminta Boeing segera memperbaiki masalah itu, yang disinyalir akan semakin memperpanjang grounding terhadap 737 MAX.



Simak Video "Belum Selesai Digrounded, FAA Temukan Masalah Baru di Boeing 737"
[Gambas:Video 20detik]

(nvc/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com