detikNews
Kamis 04 Juli 2019, 13:28 WIB

Sempat Ditahan di Korut, Mahasiswa Australia Akhirnya Dibebaskan

Novi Christiastuti - detikNews
Sempat Ditahan di Korut, Mahasiswa Australia Akhirnya Dibebaskan Alek Signey (AAP Image/Supplied by the Sigley family/via REUTERS)
Canberra - Seorang mahasiswa Australia yang ditahan di Korea Utara (Korut) telah dibebaskan. Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, menyebut kondisi mahasiswa berusia 29 tahun itu 'selamat dan sehat'.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (4/7/2019), mahasiswa bernama Alek Sigley (29) itu merupakan salah satu dari sedikit warga asing yang tinggal dan kuliah di Pyongyang. Dia menghilang sejak 23 Juni lalu sehingga memicu kekhawatiran soal nasibnya. Selama beberapa hari, keluarga Sigley tidak menerima kabar apapun soal keberadaan maupun kondisinya. Hal ini sempat memicu kekhawatiran bahwa Sigley menjadi warga asing terbaru yang ditangkap otoritas Korut.


Dalam pernyataan terbaru pada Kamis (4/7) waktu setempat, PM Morrison menyatakan kepada anggota parlemen Australia bahwa Sigley telah dibebaskan oleh Korut.

"Alek Sigley telah dibebaskan dari tahanan di Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK)," sebut PM Morrison kepada parlemen Australia, dengan menyebut nama resmi Korut.

"Alek selamat dan sehat ... kita diberitahu bahwa DPRK telah membebaskannya dari tahanan dan dia telah meninggalkan negara itu dengan aman dan saya bisa mengonfirmasi bahwa dia telah tiba dengan selamat," imbuhnya.


Dalam laporan terpisah, situs berita yang kerap membahas isu Korut, NK News, menyebut Sigley telah tiba di Beijing, China dan akan segera terbang ke Tokyo, Jepang, yang menjadi tempat tinggal istrinya, Yuka Morinaga (26). Laporan NK News itu didasari atas informasi sejumlah sumber yang memahami situasi ini.

Sigley diketahui sedang belajar literatur Korea di Kim Il Sung University, Pyongyang. Dia juga diketahui mengelola sebuah perusahaan yang menawarkan tur-tur wisata di wilayah Korut.

Alasan penahanan Sigley oleh Korut tidak diketahui pasti. Namun kabar hilangnya Sigley yang mencuat beberapa hari sebelum pertemuan bersejarah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-Un, sempat memicu spekulasi bahwa penahanan ini mungkin didasari motif politik.


Tanpa adanya hubungan diplomatik langsung dengan Korut, pemerintah Australia bergantung pada pihak ketiga dalam upaya pencarian Sigley. Diketahui bahwa kepentingan Australia di Korut diwakili oleh Kedutaan Besar Swedia.

Dituturkan PM Morrison bahwa Utusan Khusus Swedia, Kent Harstedt, mendatangi langsung Pyongyang untuk membahas soal Sigley dengan otoritas Korut.

"Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih mendalam untuk otoritas Swedia atas bantuan tak ternilainya dalam memastikan pembebasan segera Alek," sebut PM Morrison, yang menyebut pembebasan ini sebagai keberhasilan diplomasi 'di balik layar'.



Simak Video "Ribuan Warga Australia Turun ke Jalan"
[Gambas:Video 20detik]

(nvc/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com