detikNews
Selasa 02 Juli 2019, 04:33 WIB

Protes 7 Demonstran Tewas, Warga Sudan Blokir Jembatan Sungai Nil

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Protes 7 Demonstran Tewas, Warga Sudan Blokir Jembatan Sungai Nil Ilustrasi demonstrasi di Sudan (Foto: BBC World)
Omdurman - Ratusan orang berkumpul di kota Omdurman yang terletak di seberang Sungai Nil dari Khartoum, Sudan, pada Senin (1/7). Mereka melakukan protes kepada militer sehari setelah bentrokan antara dinas keamanan dan pengunjuk rasa yang menewaskan tujuh orang.

Dilansir dari Reuters, Selasa (2/7/2019), salah satu dari mereka mengatakan ratusan orang tersebut keluar setelah penduduk menemukan mayat tiga pemuda berpakaian sipil penuh dengan peluru di dekat sungai pada pagi harinya. Setidaknya ada 600 orang memblokir jalan utama menuju jembatan Nil Putih, yang menghubungkan Omdurman ke ibu kota Sudan, dan mendirikan barikade ketika polisi antihuru-hara mengawasi mereka.

Lusinan orang menangis dan meneriakkan 'turun dengan kekuasaan militer' serta 'darah untuk darah, kami tidak akan menerima uang darah' di dekat mayat yang tertutup bendera. Spanduk protes berdarah dan megafon tergeletak di dekatnya. Tidak mungkin memverifikasi siapa yang telah membunuh ketiga pria itu, tetapi para saksi mata mengatakan sebuah truk telah membuang mayat itu di sana.


Orang-orang turun ke jalanan di Sudan pada Minggu (30/6). Mereka menuntut militer menyerahkan kekuasaan kepada pihak sipil, dalam demonstrasi terbesar sejak serangan mematikan oleh pasukan keamanan di sebuah kamp pengunjuk rasa di pusat kota Khartoum tiga minggu lalu.

Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan menyebabkan sedikitnya tujuh orang tewas dan 181 lainnya luka-luka, 27 di antaranya terkena tembakan langsung. Militer Sudan menggulingkan Presiden Omar al-Bashir pada 11 April setelah berbulan-bulan demonstrasi menentang pemerintahannya.

Kelompok-kelompok oposisi terus melakukan demonstrasi dan menekan militer untuk menyerahkan kekuasaan. Namun, pembicaraan tersebut gagal usai para anggota dinas keamanan menggerebek kamp pengunjuk rasa yang berada di luar Kementerian Pertahanan pada 3 Juni lalu.


Sejumlah dokter yang berhubungan dengan pihak oposisi mengatakan lebih dari 100 orang terbunuh dalam serangan pada bulan Juni dan jasad 40 orang telah ditarik dari sungai Nil.

Koalisi oposisi yang tergabung dalam Pasukan untuk Kebebasan dan Perubahan (FFC) telah memanggil jutaan orang untuk berdemonstrasi pada hari Minggu. Hari itu sekaligus sebagai peringatan 30 tahun kudeta yang membawa Presiden Bashir berkuasa, serta batas waktu yang diberikan Uni Afrika bagi penguasa militer Sudan untuk menyerakan kekuasaan kepada warga sipil atau akan menghadapi sanksi lebih jauh.

Sudan memiliki posisi yang strategis antara Timur Tengah dan Afrika, serta stabilitasnya dipandang penting untuk wilayah yang tengah bergejolak. Berbagai kekuatan, termasuk negara-negara Teluk yang kaya, berlomba-lomba mencari pengaruh di negara berpenduduk 40 juta ini.

Simak Video "Pendemo di Sudan Dihujani Tembakan oleh Militer"
[Gambas:Video 20detik]

(azr/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com