detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 16:20 WIB

Khamenei Dijatuhi Sanksi, Presiden Iran Sebut Gedung Putih 'Terbelakang'

Novi Christiastuti - detikNews
Khamenei Dijatuhi Sanksi, Presiden Iran Sebut Gedung Putih Terbelakang Presiden Iran Hassan Rouhani (Official President website/Handout via REUTERS)
Teheran - Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengecam sanksi-sanksi baru Amerika Serikat (AS) untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Rouhani bahkan menyebut Gedung Putih 'terbelakang secara mental', kata-kata hinaan yang pernah dipakai Iran untuk menyerang Presiden AS Donald Trump.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/6/2019), dalam pidato yang disiarkan langsung televisi nasional Iran, Rouhani menyebut sanksi-sanksi AS terhadap Khamenei akan gagal karena pemimpin tertinggi Iran itu tidak memiliki aset di luar negeri. Lebih lanjut, Rouhani menyebut sanksi-sanksi itu merupakan pertanda keputusasaan AS.

"Tindakan Gedung Putih berarti mereka terbelakang secara mental," cetus Rouhani dalam pernyataannya. "Dan sanksi-sanksi AS terhadap Teheran akan gagal," imbuhnya.

"Kesabaran strategis Teheran bukan berarti kami memiliki ketakutan," tegas Rouhani.


Pada Senin (24/6) waktu setempat, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan sanksi-sanksi baru terhadap Iran. Langkah ini menjadi upaya AS untuk meningkatkan tekanan setelah Iran menembak jatuh drone militer AS pekan lalu.

Pemerintahan Trump secara khusus menargetkan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dan para pejabat senior Iran. Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Javad Zarif, juga akan dijatuhi sanksi pekan ini.

Trump menyebut sanksi-sanksi itu merupakan bagian dari respons terhadap aksi Iran menembak jatuh drone militer AS di perairan Selat Hormuz. AS bersikeras menyatakan drone itu mengudara di wilayah internasional saat ditembak jatuh, pekan lalu. Namun Iran mengklaim drone AS telah melanggar wilayah udaranya.

Sanksi-sanksi terbaru AS itu bertujuan untuk membatasi akses pemimpin Iran terhadap sumber-sumber finansial, menghalangi pemimpin dan pejabat senior Iran untuk memakai sistem finansial AS atau mengakses aset apapun yang ada di wilayah AS.


Dalam pernyataan terpisah, penasihat keamanan nasional AS John Bolton menyatakan AS masih bersedia untuk berdialog dengan Iran. Hal ini diungkapkan Bolton usai AS menjatuhkan sanksi terbaru.

"Presiden tetap membiarkan pintu terbuka untuk perundingan sesungguhnya demi secara sepenuhnya dan terverifikasi menghapuskan program senjata nuklir Iran, ambisi mengejar sistem pengantaran rudal balistik, dukungan untuk terorisme internasional dan perilaku merusak di dunia luas," tegas Bolton dalam pernyataannya.

"Semua yang perlu dilakukan Iran adalah berjalan melewati pintu yang terbuka itu," imbuhnya.

Kepada wartawan pada Senin (24/6) waktu setempat, Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan berdialog dengan AS saat ada di bawah ancaman sanksi-sanksi.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed