detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 11:06 WIB

Kasus KDRT dengan Istri Tahun 2010 Mencuat, Plt Menhan AS Mundur

Novi Christiastuti - detikNews
Kasus KDRT dengan Istri Tahun 2010 Mencuat, Plt Menhan AS Mundur Patrick Shanahan (REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo)
Washington DC - Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Patrick Shanahan, mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri diumumkan saat Shanahan menjadi sorotan publik terkait perkelahian hebat (KDRT) dengan istrinya yang terjadi sekitar 9 tahun lalu.

Seperti dilansir USA Today, Rabu (19/6/2019), mundurnya Shanahan (56) meninggalkan ketidakjelasan dalam jajaran kepemimpinan pertahanan dan sektor keamanan nasional AS di tengah ketegangan memuncak antara AS dengan Iran.

Terlebih, pemerintahan Presiden AS Donald Trump baru saja menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman, bulan ini. Pentagon atau Departemen Pertahanan AS bahkan memerintahkan 1.000 tentara tambahan dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.

Seorang juru bicara Pentagon dalam pernyataannya menyatakan pengunduran Shanahan baru akan berlaku efektif pada Minggu (23/6) malam.

Shanahan diketahui menjabat Plt Menhan AS sejak Januari, yang merupakan periode terlama Pentagon dipimpin oleh seorang pejabat sementara. Pada April lalu, Trump menyatakan niatnya untuk meresmikan Shanahan sebagai Menhan secara permanen, namun Gedung Putih belum secara resmi mengajukan pencalonannya ke Senat AS.


Trump sendiri mengumumkan pengunduran diri Shanahan sekitar satu jam setelah USA Today merilis artikel soal penyelidikan FBI terhadap perkelahian antara Shanahan dan mantan istrinya tahun 2010. Penyelidikan FBI dilakukan sebelum munculnya informasi soal potensi sidang penetapan Shanahan sebagai Menhan AS.

Dalam pengumuman via Twitter, Trump menyebut Shanahan mundur karena ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya. Trump juga menyatakan dirinya akan menggantikan Shanahan dengan Sekretaris Militer Mark Esper dan mencalonkannya untuk menjadi Menhan AS secara permanen.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Shanahan menyebut masa pengabdiannya di Pentagon sebagai 'kehormatan dan keistimewaan mendalam untuk mengabdi pada negara kita bersama-sama dengan personel Departemen Pertahanan'.

"Saya bangga atas pekerjaan yang telah tercapai selama dua tahun terakhir," ucap Shanahan, sembari menyebut bahwa Dephan AS telah mencapai 'kemajuan signifikan dalam membangun kembali dan memodernisasi militer untuk bisa bersaing dengan China dan Rusia'.

"Saya meyakini kelanjutan proses konfirmasi akan memaksa ketiga anak saya untuk merasakan kembali babak traumatis dalam kehidupan keluarga kami dan membuka kembali luka-luka yang membutuhkan bertahun-tahun untuk disembuhkan. Pada dasarnya, keselamatan dan kesejahteraan mereka menjadi prioritas tertinggi saya," imbuhnya.


"Saya akan menyambut kesempatan untuk menjadi Menteri Pertahanan, tapi tidak dengan mengorbankan kesempatan saya menjadi ayah yang baik," ujar Shanahan.

Shanahan dan mantan istrinya, Kimberley Jordinson, mengakui dalam dokumen pengadilan dan laporan polisi bahwa pertengkaran tengah malam yang berawal di kamar tidur meluas hingga ke depan rumah mereka di Seattle tahun 2010 lalu.

Pertengkaran itu berujung perkelahian, yang menurut polisi setempat, membuat Shanahan babak belur dengan tangan dan hidung berdarah serta membuat istrinya berlumuran darah di lengannya. Keduanya saling tuduh terkait insiden itu, dengan istri Shanahan mengklaim dirinya ditinju di bagian perut. Dalam pernyataan kepada USA Today baru-baru ini, Shanahan menyangkal dirinya pernah meninju istrinya saat itu.

Para Senator AS mengakui mereka tidak tahu soal kasus perkelahian Shanahan dengan istrinya di masa lalu. Shanahan juga tidak mengakui insiden itu di hadapan Senat, setelah dia menerima konfirmasi Senat sebagai orang nomor dua di Pentagon tahun 2017 lalu.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed