detikNews
Senin 03 Juni 2019, 15:41 WIB

Khawatir Jadi Gila, Pria Petapa di Jepang Dibunuh Ayahnya

Haris Fadhil - detikNews
Khawatir Jadi Gila, Pria Petapa di Jepang Dibunuh Ayahnya Tersangka pembunuhan, Hideaki Kumazawa (Foto: REUTERS)
Jakarta - Seorang ayah membunuh putranya yang memiliki kepribadian tertutup karena takut anaknya itu jadi gila. Ayahnya sendiri disebut sebagai mantan birokrat top di Jepang.

Dilansir dari Reuters, Senin (3/6/2019), media domestik menyebut pria yang ditikam ayahnya itu berusia 44 tahun. Peristiwa it disebut terjadi usai penikaman massal yang terjadi di Jepang.

Insiden ini menyoroti hikikomori berusia dewasa yang makin bertambah di Jepang. Seperti yang diketahui, mereka adalah orang-orang yang tinggal di rumah bersama orang tua mereka dan kadang, jika pernah, keluar, menghabiskan hari-hari mereka di pengasingan seperti petapa.

Polisi metropolitan Tokyo mengatakan mereka menangkap sang ayah, Hideaki Kumazawa (76) pada hari Sabtu (1/6) karena diduga menikam putranya dengan pisau. Pada hari Senin, media mengatakan Hideaki Kumazawa menjadi tersangka pembunuhan setelah anaknya itu meninggal.



Penyiar nasional NHK sebagaimana dilansir Reuters, mengatakan Kumazawa yang merupakan mantan utusan untuk Republik Ceko mengaku ke penyelidik kalau ada kekhawatiran terhadap putranya terkait berita tentang pria yang menggunakan pisau dan menebas sekelompok anak sekolah hingga menewaskan dua orang dan melukai 17 lainnya.

Tersangka dalam insiden itu disebut setengah baya dan jarang meninggalkan rumah tempat ia tinggal bersama bibi dan pamannya yang sudah lanjut usia. Dia bunuh diri segera setelah penikaman.

Masih berdasarkan NHK, Kumazawa mengatakan kepada polisi kalau putranya adalah seorang petapa dan kadang-kadang melakukan kekerasan. Penusukan itu terjadi setelah dia memarahi putranya karena marah pada suara yang dihasilkan oleh acara olahraga di sekolah terdekat.



Kumazawa sudah ditahan polisi dan tidak dapat dimintai keterangan. Belum diketahui apakah Kumazawa menunjuk pengacara atau tidak.

Kumazawa sendiri disebut lulus dari Universitas Tokyo yang bergengsi dan menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian di puncak ketakutan penyakit sapi gila pada 2001 sebelum masa tugasnya sebagai duta besar.

Beberapa kelompok menyatakan keprihatinannya soal insiden baru-baru ini yang telah membuat kesan banyak petapa melakukan kekerasan. Padahal kebanyakan tidak melakukannya.

"Masalahnya bukan pada tindakan pengasingan. Orang-orang yang mengasingkan diri telah melakukannya untuk menghindari cedera oleh, atau menyebabkan kerusakan pada, orang lain di tempat kerja atau sekolah," kata kata kelompok Kazoku Hikikomori Japan dalam sebuah pernyataan.
(haf/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed