detikNews
Jumat 24 Mei 2019, 19:38 WIB

3 Tahun Kepemimpinan PM Inggris yang Berakhir dengan Gagalnya Brexit

Novi Christiastuti - detikNews
3 Tahun Kepemimpinan PM Inggris yang Berakhir dengan Gagalnya Brexit PM Inggris Theresa May (REUTERS/Toby Melville)
London - Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May berjuang selama tiga tahun terakhir untuk memuluskan Brexit, keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Upaya PM May berujung kegagalan setelah parlemen Inggris terus menolak proposal kesepakatan Brexit yang diajukannya berulang kali.

PM May terpilih menjadi PM Inggris menggantikan PM David Cameron yang mundur dari Partai Konservatif dan jabatannya sebagai PM Inggris, setelah voting Brexit tahun 2016 menyatakan mayoritas rakyat Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Menjadi tugas PM May untuk memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa secara mulus.


Namun upaya-upaya yang dilakukan PM May untuk memuluskan Brexit berujung kegagalan. Seperti dilansir Reuters, Jumat (24/5/2019), berikut perjalanan PM May dalam memimpin Inggris selama tiga tahun terakhir, terutama dalam upayanya membawa Inggris keluar dari Uni Eropa secara lancar:

13 Juli 2016
Dalam pidato pertamanya sebagai PM Inggris, May bersumpah untuk melawan 'ketidakadilan yang berkobar' yang menahan orang-orang. Dia menjanjikan 'sebuah negara yang berhasil bagi semua orang' tapi faktanya, dia mendapati masa jabatannya banyak dihabiskan untuk memuluskan Brexit.

18 Januari 2017
Halaman depan surat kabar Inggris, Daily Mail, menampilkan foto PM May dengan judul utama berbunyi 'Steel of the New Iron Lady'. Saat itu PM May baru saja menyampaikan pidato bernada menantang yang ditujukan untuk otoritas Uni Eropa di Brussels, Belgia.

"Tidak ada kesepakatan bagi Inggris adalah jauh lebih baik daripada kesepakatan buruk untuk Inggris," tegasnya saat itu.


8 Juni 2017
PM May mulai kehilangan dominasi dalam parlemen saat digelar pemilu dini. Meskipun berulang kali melontarkan janji bahwa pemerintahannya akan tetap 'kuat dan stabil, pemerintahan PM May tercabik.

3 Oktober 2017
Pidato besar PM May dalam konferensi Partai Konservatif diganggu oleh suara batuk, orang iseng dan huruf-huruf dari slogannya yang terpasang di panggung yang tiba-tiba terjatuh. PM may berusaha mempertegas dirinya di kalangan Partai Konservatif, namun tidak terlalu berhasil.

14 Desember 2018
PM May yang marah terlibat dalam pertikaian dengan Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, dalam sebuah pertemuan di Brussels, lokasi markas utama Uni Eropa. Pertikaian terjadi setelah Juncker terang-terangan menyebut tuntutan Inggris untuk Brexit 'samar' dan 'tidak jelas'.

Saat itu, Juncker melontarkan candaan bahwa dirinya dan PM May telah berbaikan. Namun insiden itu menunjukkan hubungan Inggris dan Uni Eropa tidak optimal.


17 Desember 2018
Dalam sebuah pertemuan Uni Eropa di Salzburg, Austria, sebuah foto menunjukkan PM May diabaikan oleh sekelompok pemimpin pria yang hadir.

19 Januari 2019
Mayoritas anggota parlemen Inggris menolak proposal kesepakatan Brexit yang diajukan PM May. Sebanyak 432 suara menolak dan hanya 202 suara yang mendukung proposal itu. Hasil voting ini tercatat sebagai kekalahan terburuk dalam sejarah modern Inggris.

Ketua Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn, yang merupakan oposisi PM May, menyerukan mosi tidak percaya. Namun PM May berhasil lolos saat voting untuk mosi tidak percaya digelar parlemen.

21 Mei 2019
PM May kembali mengajukan proposal kesepakatan Brexit ke parlemen, yang menjadi upaya terakhirnya. Dia bahkan menjanjikan 'kesepakatan baru' untuk Brexit. Namun proposal ini tetap ditolak oleh mayoritas anggota parlemen dari Partai Konservatif, yang menaunginya dan Partai Buruh yang merupakan oposisi.


24 Mei 2019
PM May mengumumkan dirinya akan resmi mundur pada 7 Juni mendatang. Dia sempat tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan pidato pengunduran dirinya. Dalam pidatonya, PM May menyampaikan penyesalan atas kegagalannya membawa Inggris keluar secara mulus dari Uni Eropa.

"Memang, dan akan selalu menjadi, penyesalan mendalam bagi saya bahwa saya tidak mampu memuluskan Brexit," ucapnya.

"Akan menjadi tugas pengganti saya untuk mencari cara ke depan yang menghormati hasil referendum. Untuk berhasil, dia harus menemukan konsensus di parlemen, yang tidak bisa saya capai. Konsensus tersebut hanya akan bisa dicapai jika semua pihak yang saling berdebat, bersedia untuk berkompromi," imbuh PM May.

Tonton Video 20Detik: Perdana Menteri Inggris Theresa May Mundur

[Gambas:Video 20detik]




(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed