DetikNews
Sabtu 13 April 2019, 17:44 WIB

Sebulan Usai Teror, Warga Muslim di Christchurch Masih Takut ke Masjid

Novi Christiastuti - detikNews
Sebulan Usai Teror, Warga Muslim di Christchurch Masih Takut ke Masjid Masjid Al Noor di Christchurch, New Zealand (REUTERS/Edgar Su)
Wellington - Empat minggu sejak teror dua masjid di New Zealand, jemaah muslim di Christchurch masih takut untuk kembali salat di masjid setempat. Komunitas muslim Christchurch berjuang untuk mendorong para jemaah mengatasi rasa takut mereka dan kembali ke masjid saat ibadah Salat Jumat.

"Mereka masih sangat takut," sebut Imam Masjid Linwood, Ibrahim Abdelhalim, seperti dilansir AFP, Sabtu (13/4/2019).

"Biasanya kita mendapat sekitar 100 jemaah, tapi sekarang sekitar 30 jemaah," ujarnya.


Masjid Linwood bersama Masjid Al Noor yang sama-sama ada di kota Christchurch, dilanda penembakan brutal yang dilakukan oleh seorang pria Australia bernama Brenton Tarrant (28). Penembakan yang terjadi pada 15 Maret lalu itu, menewaskan total 50 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Tarrant yang menyebut diri sebagai pembela supremasi kulit putih ini, telah dijerat 50 dakwaan pembunuhan dan 39 dakwaan percobaan pembunuhan oleh jaksa New Zealand.

Dituturkan Abdelhalim bahwa kebanyakan warga muslim yang ingin kembali beribadah di masjid setempat 'mengalami kilas balik dan itu tidak baik'.

Masjid Linwood di Christchurch masih digaris polisi dalam foto ayng diambil 18 Maret laluMasjid Linwood di Christchurch masih digaris polisi dalam foto yang diambil 18 Maret lalu Foto: REUTERS/Edgar Su

Kepolisian New Zealand diketahui merilis pernyataan yang menegaskan bahwa level ancaman nasional 'tetap tinggi' sebulan setelah teror terjadi, meskipun pelaku diyakini bertindak sendirian dalam aksi brutalnya.

Pekan ini, komunitas muslim di Christchurch terguncang oleh aksi seorang pria berkaos Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang meneriakkan kata-kata kasar kepada para jemaah Masjid Al Noor.


Pria bernama Daniel Nicholas Tuapawa (33) itu telah disidang atas dakwaan berperilaku yang 'mungkin memicu kekerasan' di pengadilan setempat pada Jumat (12/4) waktu setempat dan mengaku bersalah atas tindakannya.

Saat ditunjukkan rekaman video dirinya sedang meneriakkan komentar-komentar kasar, termasuk teriakan 'semua muslim adalah teroris', Tuapawa mengaku tidak sadar jika dirinya pernah melakukan hal itu. Dia menyebut dirinya menderita gangguan kesehatan mental dan tidak membenci warga muslim.

"Saya tidak percaya bahwa ini benar-benar diri saya," ucap Tuapawa kepada wartawan setempat. "Itu hanya karena hal ini terus ada di berita dan di kepala saya," imbuhnya.


(nvc/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed