DetikNews
Selasa 09 April 2019, 14:10 WIB

Arab Saudi dan UAE Beri Bantuan Rp 2,7 T ke Yaman untuk Ramadan

Novi Christiastuti - detikNews
Arab Saudi dan UAE Beri Bantuan Rp 2,7 T ke Yaman untuk Ramadan Ilustrasi (BBC World)
Abu Dhabi - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) akan memberikan bantuan sebesar US$ 200 juta (Rp 2,7 triliun) kepada Yaman. Kedua negara itu diketahui memimpin koalisi militer negara-negara Arab dalam melawan pemberontak Houthi di Yaman.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (9/4/2019), bantuan dari Saudi dan UAE untuk Yaman itu akan digunakan saat bulan suci Ramadan, yang akan dimulai awal Mei nanti.

Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional UAE, Reem al-Hashimy, menyatakan bahwa Saudi dan UAE bekerja sama dengan kelompok-kelompok kemanusiaan dalam menyalurkan bantuan ke area-area, yang dikuasai kedua pihak yang berkonflik di Yaman selama empat tahun terakhir.

Bantuan sebesar US$ 200 juta itu, sebut Al-Hashimy, merupakan bagian dari program bantuan pangan gabungan sebesar US$ 500 juta (Rp 6,9 triliun) yang diumumkan pada November 2018 lalu.


UAE diketahui memainkan peran utama dalam konflik Yaman dengan menjadi bagian dari koalisi militer pimpinan Saudi yang melakukan intervensi tahun 2015 lalu untuk melawan pemberontak Houthi dan memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Menurut Kementerian Statistik setempat, UAE telah mendonasikan US$ 5,41 miliar (Rp 75,4 triliun) antara April 2015 hingga Desember 2018 untuk mendukung bantuan pangan darurat, suplai energi dan layanan kesehatan di Yaman.

Di antara organisasi-organisasi internasional, penerima terbesar adalah Program Pangan Dunia (WFP) pada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang menerima bantuan sebesar US$ 287 juta (Rp 4 triliun) dari UAE.

Konflik berkelanjutan yang melanda Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang -- beberapa akibat serangan udara koalisi pimpinan Saudi -- dan menyebabkan 10 juta orang berada di ambang kelaparan. Yaman yang terletak di Semenanjung Arab ini tengah dilanda wabah kolera ketiga kalinya sejak konflik pecah tahun 2015.


Pada Desember 2018, pihak-pihak yang berkonflik mencapai kesepakatan dalam perundingan damai yang dicetuskan PBB untuk gencatan senjata dan penarikan pasukan dari pelabuhan Hodeidah, Laut Merah, yang menjadi penopang hidup untuk suplai bahan bakar dan pangan. Gencatan senjata mampu terlaksana, namun penarikan pasukan tidak terwujud karena besarnya rasa ketidakpercayaan antara pihak yang berkonflik.

Konflik pun berlanjut dan pada Minggu (7/4) waktu setempat. Laporan outlet media Houthi, Masirah menyebut 11 orang termasuk lima siswa tewas dalam serangan udara koalisi Saudi di Sanaa, yang mengenai sebuah sekolah dan rumah-rumah di sekitarnya. Pada Senin (8/4) waktu setempat, layanan kemanusiaan Uni Eropa melaporkan serangan udara terhadap 'hanggar' di Sanaa memicu kerusakan pada rumah-rumah warga sipil dan sebuah sekolah setempat.

Juru bicara koalisi pimpinan Saudi menyangkal laporan bahwa pasukannya menargetkan area permukiman warga di Sanaa.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed