DetikNews
Kamis 28 Maret 2019, 10:40 WIB

Ramai-ramai Mengecam AS di Sidang DK PBB Soal Dataran Tinggi Golan

Novi Christiastuti - detikNews
Ramai-ramai Mengecam AS di Sidang DK PBB Soal Dataran Tinggi Golan Trump dan Netanyahu memegang proklamasi pengakuan AS untuk kedaulatan Israel atas Golan (REUTERS/Leah Millis/File Photo)
New York - Amerika Serikat (AS) dihujani kecaman dalam sidang terbaru Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Negara-negara besar dunia mengecam langkah AS mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel sebagai pelanggaran resolusi-resolusi PBB.

Pada Senin (25/3) lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani sebuah proklamasi yang isinya mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Diketahui bahwa wilayah Golan hingga kini masih menjadi sengketa antara Israel dan Suriah.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (28/3/2019), Inggris sebagai sekutu terdekat AS menyebut langkah mengakui kedaulatan Israel atas wilayah Golan itu jelas melanggar Resolusi 497 tahun 1981 yang menyatakan aneksasi Israel terhadap Golan 'batal dan tidak berlaku'.

Dalam forum yang sama, Prancis memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengabaikan hukum internasional 'pasti gagal'. Negara-negara Eropa lainnya anggota DK PBB, seperti Jerman, Belgia dan Polandia, juga menyuarakan kekhawatiran soal 'konsekuensi luas dari pengakuan terhadap mengakui aneksasi ilegal' juga soal 'konsekuensi lebih luas untuk kawasan' Timur Tengah.


Kritikan juga datang dari Rusia yang menyebut langkah AS itu tidak hanya melanggar resolusi PBB, tapi juga bisa memicu instabilitas di kawasan Timur Tengah. Rusia menyerukan agar negara-negara anggota DK PBB menolak keputusan AS itu dan tetap memandang Golan sebagai wilayah pendudukan Israel.

"Jika ada yang tergoda untuk mengikuti contoh yang buruk ini, kami akan mendorong mereka untuk menahan diri dari revisi hukum internasional yang agresif ini," tegas Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Vladimir Safronkov, dalam rapat DK PBB yang digelar Rabu (27/3) waktu setempat.

Sidang DK PBB ini digelar atas permintaan Suriah, yang dalam suratnya menyebut langkah kontroversial AS itu sebagai 'pelanggaran terang-terangan' terhadap resolusi-resolusi PBB. Diketahui bahwa sebelumnya telah ada tiga resolusi PBB yang menyerukan Israel untuk menarik diri dari Golan.

Diketahui bahwa Golan merupakan wilayah perbatasan yang dicaplok Israel dari Suriah dalam perang tahun 1967. Israel menganeksasi Golan pada tahun 1981 dalam langkah yang tak diakui dunia internasional. DK PBB dan pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya, selalu menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai 'wilayah pendudukan' yang pengembaliannya masih harus dirundingkan sebagai bagian dari kesepakatan damai yang menyeluruh antara Israel dan Suriah.


Selain dikecam negara-negara Eropa, keputusan AS mengakui Golan sebagai wilayah Israel juga menuai kecaman negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Kuwait. Iran bahkan menyebut keputusan Trump itu sama saja mempraktikkan 'kolonialisme'.

Dalam forum DK PBB itu, AS membela keputusan kontroversialnya. AS berargumen bahwa keputusan itu akan menunjang keamanan Israel dan bisa berkontribusi pada stabilitas kawasan Timur Tengah dengan menjaga Suriah dan Iran tetap terkontrol.

Duta Besar Misi AS untuk PBB, Rodney Hunter, mengatakan, dengan mengizinkan Golan dikuasai Suriah sama saja dengan 'menutup sebelah mata terhadap ancaman-ancaman yang muncul' dari Suriah dan Iran dan sekutunya Hizbullah yang ingin memanfaatkan Golan untuk menyerang Israel.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed