DetikNews
Sabtu 23 Maret 2019, 12:35 WIB

Indonesia Bukukan Potensi Transaksi Rp 8,86 Triliun di ITB Berlin 2019

Novi Christiastuti - detikNews
Indonesia Bukukan Potensi Transaksi Rp 8,86 Triliun di ITB Berlin 2019 Foto: Dok. KBRI Berlin
Berlin - Internationale Tourismus Börse (ITB) Berlin 2019 berakhir pada 10 Maret lalu. Selama lima hari penyelenggaraannya, sekitar 160 ribu pengunjung, diantaranya 113.500 trade visitor, memadati area Messe Berlin, Jerman, tempat penyelenggaraan bursa wisata internasional ini.

Partisipasi Indonesia di ITB 2019 menempati lahan seluas 658 meter persegi dengan branding Wonderful Indonesia dan desain utama kapal phinisi double-decker. Sekitar 105 pelaku Industri Pariwisata Nasional hadir pada event akbar ini. Menteri Pariwisata, Dr. Arief Yahya, juga hadir memimpin tim Indonesia.

Dari pertemuan bisnis para pelaku industri pariwisata Indonesia dengan mitranya, dicatat potensi transaksi sekitar Rp 8,86 triliun. Angka tersebut melebihi nilai transaksi tahun 2017, sebesar Rp 8,6 triliun dan Rp 6,5 triliun di 2016. Demikian seperti disampaikan dalam keterangan pers KBRI Berlin yang diterima detikcom, Sabtu (23/3/2019).


Mengomentari capaian tersebut, Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, menyebut bahwa tahun 2018 tidak begitu kondusif bagi pariwisata Indonesia.

Sejumlah bencana di sepanjang tahun tersebut menggantungkan awan mendung bagi industri pariwisata tanah air. Gempa Lombok, gempa di Sulawesi Utara, kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, serta tsunami di Tanjung Lesung menjadi headline utama dan langsung berpengaruh terhadap rencana perjalanan ke Indonesia.

"Namun demikian, kita perlu bersyukur, jumlah kunjungan wisatawan Jerman ke Indonesia tetap meningkat sekitar 2.25% dari yang sebelumnya berjumlah 267.823 kunjungan pada tahun 2017 menjadi 273.847 kunjungan pada tahun 2018," tukas Dubes Oegroseno.


Sebagai negara yang berada di lingkaran Cincin Api Pasifik, peristiwa gempa, erupsi dan tsunami tidak terelakkan. Dengan melakukan pemetaan kawasan pariwisata yang rentan ancaman bencana, Kemenpar telah membentuk bidang khusus untuk manajemen krisis kepariwisataan di bawah Biro Komunikasi Publik.

Selain antisipasi manajemen krisis pasca bencana yang telah disiapkan Kemenpar, publikasi berimbang mengenai dampak bencana juga perlu dikelola. Hal tersebut untuk menghindari pengaruh image negatif meluas ke wilayah lainnya.

Sebagaimana diketahui, dari pemberitaan bencana di Indonesia, banyak wisatawan Jerman yang membatalkan kunjungan ke Indonesia. Demikian pula dengan wacana penutupan Taman Nasional Komodo, menyebabkan pembatalan sejumlah rencana perjalanan wisatawan Jerman ke Labuan Bajo.


(nvc/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed