DetikNews
Senin 18 Maret 2019, 14:52 WIB

Gaya Pembangkit Gempa 5,4 SR yang Sebabkan Longsor di Lombok Masih Misteri

Fajar Pratama - detikNews
Gaya Pembangkit Gempa 5,4 SR yang Sebabkan Longsor di Lombok Masih Misteri Rumah rusak akibat kemba Lombok Minggu (17/3) kemarin (Foto: ACT)
Jakarta - Dua gempa berkekuatan masing-masing 5,4 dan 5,1 menyebabkan ratusan rumah di Lombok, NTB. Selain kerusakan rumah, dampak lain gempa ini adalah timbulnya longsor yang menelan korban jiwa.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, gempa yang terjadi pada Minggu (17/3) kemarin itu memang berpotensi merusak (destruktif).

"Di wilayah Kabupaten Lombok Timur khususnya daerah Sembalun dan sekitarnya dampak guncangan mencapai skala intensitas V-VI MMI yang berpotensi merusak, sementara di wilayah Kabupaten Lombok Utara guncangan kuat terjadi mencapai skala intensitas IV-V MMI," ujar Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (17/3/2019).


"Peta Shakemap ini terbukti akurat, karena berdasarkan laporan BPBD Provinsi NTB dampak gempa telah menimbulkan sebanyak 499 rumah rusak ringan dan 28 rumah rusak berat," imbuhnya.

Longsor dampak gempa tersebut terjadi Kawasan Wisata Air Terjun Tiu Kelep di Kabupaten Lombok Utara yang berjarak sekitar 24 km arah barat laut dari pusat gempa. Tiga orang meninggal dan lima orang mengalami luka berat.

"Kondisi ketidakstabilan lereng di Kawasan Wisata Air Terjun Tiu Kelep memang sangat mungkin terjadi, karena wilayah ini merupakan kawasan yang sering kali mengalami guncangan gempa kuat saat Gempa Lombok Juli-Agustus 2018," tutur Daryono.

"Hingga pukul 11.00 WIB Senin 18 Maret 2019 siang hari ini, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi sebanyak 45 kali aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 5,1 dan magnitudo terkecil M 1,9," jelasnya.

Menurut Daryono, mengacu pada pusat dan kedalaman gempa, gempa di Lombok kemarin termasuk dalam klasifikasi gempa kerak dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sebelah tenggara Gunung Rinjani.

"Gempa ini dipicu oleh penyesaran dengan mekanisme turun," ungkap Daryono.


Daryono menambahkan, sesar pembangkit gempa kemarin bukanlah sesar yang menjadi pembangkit Gempa Lombok tahun 2018 lalu. Sesar pembangkit Gempa Lombok tahun lalu adalah Sesar Naik Flores dengan mekanisme naik.

"Adanya perbedaan mekanisme sumber gempa ini menjadi indikator penting bahwa kedua gempa dibangkitakan oleh sumber gempa yang berbeda. Dalam hal ini sangat penting untuk melakukan analisis mekanisme sumber sebelum menyimpulkan penyebab gempa yang terjadi," imbuhnya.

"Jika dibanding antara Sesar Naik Flores dan Sesar Lokal pembangkit gempa kemarin, maka potensi gempa yang terjadi memang jauh lebih besar akibat dipicu Sesar Naik Flores. Flores Back Arc Thrust adalah sesar regional, jalur sesarnya sangat panjang dari utara Bali hingga utara Flores sehingga wajar jika mampu membangkitkan gempa besar, sedangkan gempa kemarin diduga kuat dipicu oleh aktivitas sesar lokal dengan mekanisme turun yang belum terpetakan," bebernya.


Daryono menyatakan para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa yaitu dipicu sesar aktif dengan mekanime turun. Meski begitu belum ada kesepakatan terkait gaya pembangkitnya.

"Akan tetapi untuk menjelaskan mengapa di daratan Pulau Lombok muncul gempa dangkal dengan mekanisme turun, maka belum ada kata sepakat terkait gaya pembangkitnya. Gaya pembangkit Gempa Lombok ini masih menjadi misteri untuk diungkap," kata Daryono.
(rna/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed