DetikNews
Rabu 06 Maret 2019, 14:06 WIB

Raja Salman dan Putra Mahkota Beda Pendapat Soal Sudan dan Aljazair

Novi Christiastuti - detikNews
Raja Salman dan Putra Mahkota Beda Pendapat Soal Sudan dan Aljazair Raja Salman dan Pangeran Mohammed bin Salman (Dok. Saudi Press Agency/Handout via REUTERS)
Riyadh - Gesekan yang dilaporkan terjadi antara Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud dengan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) semakin meningkat dalam beberapa waktu setempat. Ayah dan anak itu disebut berbeda pendapat soal kebijakan luar negeri untuk Sudan, Aljazair dan Yaman.

Seperti dilansir media Inggris, The Guardian, Rabu (6/2/2019), sejumlah sumber yang memahami situasi terkini di Saudi menyebut bahwa Raja Salman dan MBS berbeda pendapat soal pendekatan Saudi terhadap unjuk rasa yang baru-baru ini muncul di Sudan dan Aljazair.

Cara Saudi menangani tahanan perang di Yaman juga termasuk di antara sejumlah kebijakan luar negeri yang diperdebatkan Raja Saudi dan ahli waris takhtanya itu. Diketahui bahwa militer Saudi masih terus melancarkan operasi terhadap pemberontak Houthi di Yaman.

"Raja (Salman) disebutkan tidak setuju dengan pendekatan garis keras Pangeran Mohammed untuk menekan unjuk rasa. Sementara Raja bukan seorang reformis, dia disebut mendukung pemberitaan yang lebih bebas di media-media Saudi soal unjuk rasa di Aljazair,," tulis The Guardian dalam laporannya.


Diketahui bahwa rakyat Aljazair sedang memprotes Presiden Abdelaziz Bouteflika (82) yang kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk periode kelima. Bouteflika yang memimpin Aljazair sejak tahun 1999, jatuh sakit setelah mengalami stroke pada tahun 2013. Saat ini dia dilaporkan dalam kondisi lumpuh dan tidak bisa berbicara.

Sedangkan di Sudan, unjuk rasa antipemerintah tengah berlangsung. Rakyat Sudan memulai aksinya sejak Desember 2018 untuk memprotes pemotongan subsidi roti dan bahan bakar. Namun belakangan meluas menjadi menuntut Presiden Omar al-Bashir mundur, setelah dia menetapkan situasi darurat nasional, membubarkan pemerintah federal, mencopot semua gubernur dan melarang unjuk rasa di tempat umum.

Selain beda pendapat soal Sudan dan Aljazair, Raja Salman dan MBS juga dilaporkan bersitegang soal langkah-langkah terbaru yang diambil MBS. Selama Raja Salman berkunjung ke Mesir pada Februari lalu, MBS menandatangani dua penunjukan besar. Dia menunjuk seorang wanita, Putri Reema binti Bandar bin Sultan, menjadi Duta Besar Saudi untuk AS untuk pertama kalinya dan menempatkan saudaranya, Pangeran Khalid bin Salman, sebagai Wakil Menteri Pertahanan (Menhan).


Diungkapkan sumber yang dikutip The Guardian bahwa pengumuman besar itu dilakukan tanpa sepengetahuan Raja Salman. Menurut sumber itu, Raja Salman marah atas keputusan MBS itu, terutama penunjukan Pangeran Khalid yang diyakini sebagai langkah prematur untuk menaikkannya ke posisi yang lebih senior. The Guardian diberitahu bahwa Raja Salman dan timnya mengetahui reshuffle itu melalui televisi.

Tak hanya itu saja, disebutkan juga oleh sumber bahwa gesekan antara keduanya dipertegas saat MBS tidak ikut menyambut Raja Salman yang baru pulang dari kunjungan ke Mesir. Keterangan pers resmi yang berisi daftar tamu di Bandara Riyadh mengonfirmasi MBS tidak masuk di dalamnya.

"Ada pertanda halus namun penting soal sesuatu yang tidak beres di istana kerajaan (Saudi)," sebut Direktur Brooking Intelligence Project, Bruce Riedel, yang pernah menjadi analis CIA selama 30 tahun.

"Seorang Putra Mahkota yang sehat diharapkan menyambut Raja yang pulang dari kunjungan luar negeri, itu menjadi wujud rasa hormat dan keberlangsungan pemerintahan. Keluarga kerajaan akan mengawasi secara saksama untuk mencari tahu apa maksud di balik itu," imbuh Riedel.


Pengamat lainnya menilai, bisa saja situasi yang kini terjadi di Saudi telah disalahartikan. Menurut Neil Quilliam yang merupakan peneliti program Timur Tengah dan Afrika Utara pada LSM Chatham House, meskipun MBS mengumumkan penunjukan besar tanpa kehadiran ayahnya, hal itu sejalan dengan kebijakan yang disepakati untuk melakukan perubahan terhadap Kedubes Saudi di Washington DC.

"Namun demikian, itu menunjukkan keinginan Bin Salman (MBS) untuk terus menekan dengan perubahan dan kesediaan untuk mempertegas kekuasaannya. Kita telah melihat perbedaan di antara keduanya, khususnya soal isu Yerusalem, tapi MBS sepertinya tidak akan mendorong ayahnya lebih keras, mengingat dia tetap tergantung pada dukungannya sebagai titik legitimasi," ujar Quilliam.

Ditambahkan Quilliam bahwa ketidakhadiran MBS dalam penyambutan kepulangan ayahnya memang mendobrak protokol, namun mungkin ada sejumlah alasan yang mendasari ketidakhadirannya itu.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed