DetikNews
Senin 04 Februari 2019, 19:32 WIB

Kunjungan Bersejarah Paus Fransiskus ke UEA Diwarnai Kritikan

Novi Christiastuti - detikNews
Kunjungan Bersejarah Paus Fransiskus ke UEA Diwarnai Kritikan Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Uni Emirat Arab (Dok. UEA Government)
Abu Dhabi - Kunjungan bersejarah pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, di Uni Emirat Arab (UEA) menandai babak baru dalam sejarah hubungan antaragama. Di sisi lain, kunjungan ini menuai kritikan dari organisasi HAM internasional, khususnya untuk pemerintah UEA.

Seperti dilansir CNN, Senin (4/2/2019), dalam pesan via video, Paus Fransiskus menyebut kunjungannya ini menandai 'babak baru dalam sejarah hubungan antaragama, mengonfirmasi bahwa kita semua bersaudara, meskipun kita berbeda'.

Diketahui bahwa mayoritas warga UEA menganut Islam, namun negara ini memiliki populasi ekspatriat yang besar. Sekitar 1,2 juta warga UEA merupakan penganut Kristen. Mayoritas warga Kristen di UEA merupakan keturunan India dan Filipina.

Dalam kunjungan selama tiga hari di Abu Dhabi, UEA, Paus Fransiskus akan menghadiri konferensi antaragama dengan para pemimpin Yahudi dan Kristen. Paus Fransiskus dijadwalkan bertemu dengan Imam Masjid Al-Azhar, Ahmad al-Tayeb, dalam forum itu. Pertemuan itu akan menjadi pertemuan keempat antara Paus Fransiskus dan Al-Tayeb.

Puncak dari kunjungan bersejarah itu adalah misa yang akan digelar di Zayed Sports City pada Selasa (5/2) besok, yang akan dihadiri 135 ribu orang dan diperkirakan mencetak rekor sebagai acara perkumpulan publik terbesar di UEA. Otoritas UEA menetapkan hari Selasa (5/2) besok sebagai hari libur untuk orang-orang yang menghadiri misa Paus Fransiskus.


Dalam pesan videonya, Paus Fransiskus memuji UEA sebagai 'tanah yang berusaha menjadi model bagi koeksistensi, persaudaraan manusia dan pertemuan antara peradaban dan budaya berbeda'.

Otoritas UEA memang telah menggaungkan upaya-upaya mempromosikan koeksistensi agama, salah satunya dengan menunjuk Menteri Toleransi pada tahun 2016 dan menetapkan tahun 2019 sebagai 'tahun toleransi'.

Namun kelompok-kelompok dan aktivis HAM menyebut langkah-langkah itu sebagai langkah 'simbolis' belaka, dengan menyebut penindakan sewenang-wenang terhadap orang-orang yang berbeda pendapat masih marak terjadi beberapa tahun terakhir. Amnesty International bahkan menyebut otoritas UEA memanfaatkan kunjungan Paus Fransiskus untuk tujuan itu.

"Otoritas UEA berusaha menyebut 2019 sebagai 'tahun toleransi' dan sekarang berupaya menunjukkan kunjungan Paus sebagai bukti dari rasa hormat mereka pada keberagaman. Apakah ini berarti mereka (UEA-red) siap untuk mencabut kebijakan penindasan yang sistematis terhadap setiap bentuk perbedaan pendapat atau kritikan?" sebut Direktur Penelitian Timur Tengah pada Amnesty International, Lynn Maalouf, dalam pernyataannya.


Dalam pernyataan itu, Amnesty International juga menyerukan kepada Paus Fransiskus untuk mengangkat isu kekerasan dan penahanan para pembela HAM dalam kunjungannya ke UEA.

"Sejak tahun 2011, otoritas (UEA-red) telah secara sistematis menindak kasar setiap pengkritik mereka, termasuk aktivis, hakim, pengacara, akademisi, mahasiswa dan jurnalis melalui penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, penyiksaan dan perlakuan kasar lainnya," tegas Maalouf.

Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah UEA terhadap kritikan dari Amnesty International ini.


(nvc/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed