Arab Saudi Raup Rp 1.462 T dari Operasi Antikorupsi Sejak 2017

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 31 Jan 2019 15:50 WIB
Pangeran Mohammed bin Salman (Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)
Riyadh - Pemerintah Arab Saudi mengakhiri operasi pemberantasan korupsi yang diperintahkan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Saudi mengklaim berhasil meraup lebih dari 400 miliar Riyal (Rp 1.462 triliun) melalui penyelesaian dengan orang-orang yang terjaring operasi itu.

Seperti dilansir Reuters dan Arab News, Kamis (31/1/2019), Kerajaan Saudi dalam pernyataannya pada Rabu (30/1) menyebut otoritas Saudi telah memeriksa 381 orang, dengan beberapa orang sebagai saksi, sejak operasi antikorupsi diluncurkan pada November 2017. Namun tak disebut nama-nama yang diperiksa.

Disebutkan juga bahwa 87 orang mengaku bersalah atas dakwaan yang dijeratkan terhadap mereka dan mencapai penyelesaian dengan otoritas Saudi. Penyelesaian yang dimaksud itu melibatkan penyitaan real-estate, perusahaan, uang tunai dan sejumlah aset lainnya.

Identitas orang-orang yang menyepakati penyelesaian itu tidak diungkap ke publik. Hanya disebut bahwa penyitaan dilakukan terhadap sejumlah pangeran senior, menteri-menteri dan penguasa top yang diselidiki terkait operasi antikorupsi itu.


Jumlah total yang diraup dari penyitaan itu disebut mencapai lebih dari 400 miliar Riyal atau setara Rp 1.462 triliun.

Pernyataan Kerajaan Saudi juga menyebut bahwa jaksa-jaksa penuntut menolak untuk menyelesaikan kasus yang menjerat 56 orang karena mereka sebelumnya telah terjerat dakwaan kriminal. Delapan orang lainnya disebut menolak mencapai penyelesaian dan akan diadili atas dakwaan korupsi.

Ditambahkan Kerajaan Saudi dalam pernyataannya, orang-orang yang ditahan namun tidak dijerat dakwaan korupsi, telah dibebaskan. Namun tidak diketahui pasti apakah larangan bepergian, pembekuan aset dan pemantauan secara elektronik terhadap mereka juga akan diakhiri.

Selama tiga bulan pertama operasi antikorupsi ini digelar, banyak kalangan elite ekonomi dan politik Kerajaan Saudi yang ditahan. Terdapat nama miliarder terkemuka Pangeran Alwaleed bin Talal, Menteri Garda Nasional Pangeran Miteb bin Abdullah dan mantan Gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah di antara mereka yang ditahan. Baik Alwaleed maupun Miteb dibebaskan setelah mencapai penyelesaian dengan otoritas Saudi.


Kebanyakan dari mereka ditahan di hotel mewah Ritz-Carlton di Riyadh. Namun kemudian ada yang dipindahkan ke penjara yang sebenarnya. Laporan juga menyebut beberapa dari mereka yang ditahan mengalami penyiksaan. Namun otoritas Saudi membantah hal itu.

Para pengkritik menyebut operasi antikorupsi itu sebagai permainan kekuasaan oleh MBS. Operasi tersebut juga sempat membuat cemas sejumlah investor asing yang tengah menjajaki investasi di Saudi. MBS sendiri menyebut operasi antikorupsi itu sebagai 'terapi kejutan'. Namun pembunuhan wartawan Saudi bernama Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki menodai reputasi MBS di mata Barat dan menambah kritikan tajam terhadap Saudi.

Reformasi sosial yang dilakukan MBS, termasuk mencabut sejumlah larangan seperti larangan bioskop dan larangan wanita mengemudi mobil, dibayangi oleh penindakan keras orang-orang yang dianggap membangkang. Penangkapan para ulama, aktivis wanita dan para intelektual yang dinilai berbeda pendapat, masih marak terjadi di Saudi.

(nvc/ita)