DetikNews
Rabu 13 September 2017, 15:24 WIB

Tolak Mengecam Suu Kyi, Pemimpin Senat AS: Dia Harapan Terbesar Kita

Novi Christiastuti - detikNews
Tolak Mengecam Suu Kyi, Pemimpin Senat AS: Dia Harapan Terbesar Kita Aung San Suu Kyi (Cathal McNaughton/REUTERS)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Washington DC - Senat Amerika Serikat (AS) akan membahas resolusi yang isinya mengecam pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi atas kekerasan di Rakhine. Pemimpin mayoritas Senat AS, Mitch McConnell, menolak resolusi itu dan menegaskan AS tidak perlu menguliahi Suu Kyi.

"Saya tidak mendukung resolusi yang menargetkan dia," tegas McConnell seperti dilansir Reuters, Rabu (13/9/2017). McConnell telah sejak lama terlibat pembahasan isu-isu terkait Myanmar, yang oleh AS masih disebut sebagai Burma.

"Saya pikir dia menjadi harapan terbesar yang kita miliki untuk membawa Burma dari posisi sebelumnya, kediktatoran militer, menuju ke arah yang kita harapkan," imbuhnya.


Dua senator senior AS, John McCain dari Partai Republik dan Richard Durbin dari Partai Demokrat, memperkenalkan resolusi itu untuk dibahas di Kongres AS, pekan lalu. Resolusi tersebut berisi kecaman atas kekerasan terhadap Rohingya di Rakhine dan meminta Suu Kyi untuk bertindak tegas. McConnell yang juga politikus Partai Republik, menegaskan dirinya tidak akan mendukung resolusi itu.

"Pandangan pribadi saya adalah, Amerika yang semacam menyudutkan dia dan menguliahinya (Suu Kyi-red) ketika dia berada dalam posisi sangat penuh tantangan, itu tidak membantu. Jadi ... Saya tidak ingin menjadi bagian dari itu," ucapnya.

Tekanan internasional bagi Myanmar agar mengakhiri kekerasan di Rakhine, terus meningkat. Terlebih jumlah warga Rohingya yang terpaksa mengungsi karena konflik terus bertambah. Sejauh ini PBB mencatat ada 370 ribu pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak konflik kembali pecah pada 25 Agustus lalu.


Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyerukan perlindungan bagi warga sipil di Myanmar. AS sendiri menjadi pendukung kuat Myanmar saat menjalani transisi dari pemerintahan junta militer selama beberapa dekade terakhir ke pemerintah sipil yang dipimpin Suu Kyi.

Namun sikap Suu Kyi yang bungkam selama ini memancing kritikan dari banyak pihak. Suu Kyi yang pernah menerima Nobel Perdamaian ini diserukan untuk bersuara lantang membela warga Rohingya yang tertindas.

Selain menyusun resolusi mengecam Suu Kyi, McCain yang memimpin Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS, menyatakan akan berupaya menghentikan kerja sama militer AS dengan Myanmar. Kerja sama itu diatur dalam kebijakan pertahanan yang akan dibahas Kongres AS.


Undang-undang Wewenang Pertahanan Nasional 2018 atau NDAA mengatur perluasan kerja sama militer tersebut. "Sementara saya berharap NDAA bisa berkontribusi dalam reformasi positif di Burma, saya tidak bisa lagi mendukung perluasan kerja sama militer-ke-militer merujuk pada krisis kemanusiaan yang semakin memburuk dan pelanggaran HAM terhadap warga Rohingya," tegas McCain.


(nvc/ita)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed