DetikNews
Kamis 27 Juli 2017, 07:45 WIB

Menakar Jenderal Gatot (1)

Gatot Alternatif Poros Jokowi dan Prabowo

Erwin Dariyanto - detikNews
Gatot Alternatif Poros Jokowi dan Prabowo Infografis: Kiagos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Teriakan 'Presiden, Presiden' itu berulang kali terdengar menggema di arena Mukernas PPP di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, 22 Juli lalu. Teriakan muncul dari kader PPP saat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memasuki ruangan Mukernas. Gatot hanya tersenyum. Pun ketika kata-kata 'Presiden' kembali terdengar saat ia berpidato.

Saat menghadiri acara Rapimnas Golkar pada 22 Mei lalu di Balikpapan, Kalimantan Timur, teriakan senada mencuat dari beberapa kader Golkar. Beberapa hari lalu, pengurus teras tiga partai politik, NasDem, PAN, dan Gerindra, meski masih atas nama pribadi, juga menyebut alumnus Akmil 1982 itu layak maju dalam pemilihan Presiden dan wakil presiden 2009.



Kepala Pusat Studi Politik dan Pertahanan Universitas Padjajaran Bandung, Muradi menilai semua baru sebatas testing the water. Dia melihat belum ada partai yang benar-benar serius mengusung sang jenderal. "Khusus dari PAN, memang ada semacam manuver untuk membangun poros alternatif di luar Jokowi dan Prabowo Subianto," kata dia saat berbincang dengan detikcom, Rabu malam (26/7/2017).

Namun, ia melanjutkan, hal itu tergantung sejauh mana respons dari publik terhadap sosok Gatot. Jika respons tidak cukup baik, "kemungkinan poros ketiga tersebut tidak akan pernah terwujud."

Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia Denny JA mengakui nama Gatot ada dalam tiga besar calon presiden 2019, selain Jokowi dan Prabowo. "Sampai hari ini memang tiga nama itu yang kuat. Tapi Gatot kesulitan mencari partainya," tulis Denny singkat melalui layanan Whatsapp. Tapi saat ditanya soal prosentase maupun kapan survey terakhir dilakukan, ia tak merespons.


Sebaliknya Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, peluang Jenderal Gatot sebagai Capres 2019 tak cukup besar. Hal itu merujuk dua poros calon yang terbentuk kuat, yakni pendukung Jokowi dan kubu Prabowo Subianto.

Partai-partai yang tergabung dalam koalisi pendukung pemerintah yakni: Golkar, NasDem dan PPP sudah mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi. PDIP, Hanura dan PKB pada waktunya kelak juga kemungkinan besar akan satu suara mengusung Jokowi.



Poros kedua dibentuk oleh Gerindra yang kuat kemungkinan akan berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera.

Tersisa PAN dan Demokrat. Namun gabungan kursi di DPR antara Demokrat dan PAN tak cukup untuk membentuk poros sendiri. Demokrat baru bisa membentuk poros sendiri bila bisa menggaet satu partai baik dari kubu Jokowi atau pendukung Prabowo.



Misalnya, kata Qodari, Demokrat dan PAN bisa menggaet PKB untuk bergabung. Maka poros ketiga bisa terbentuk. Partai Demokrat akan menjadi pemimpin dalam poros ketiga ini.

Sebagai pemimpin poros, Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono kemungkinan besar akan mengajukan Agus Harimurti ketimbang Gatot sebagai calon presiden. "Pendampingnya Zulkifli (Hasan) atau Muhaimin Iskandar," kata dia. Di poros ketiga ini, peluang Gatot sebagai Cawapres juga berat. Pasalnya partai koalisi tentu akan mengajukan kader mereka sebagai calonnya.

Sejauh ini Jenderal Gatot tak pernah menanggapi rencana sejumlah parpol yang akan mengajukan dirinya sebagai Capres atau pun Cawapres 2019. Ia menegaskan sebagai Panglima TNI dirinya tidak etis bermimpi menjadi presiden. Bagaimana kalau ada partai yang mencalonkan? "Itu kan kabar, tanya yang kasih kabar saja," tangkisnya.
(erd/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed