DetikNews
Senin 22 Agustus 2016, 14:11 WIB

Jelajah Australia 2016

Lika-liku Maryati: Ke Afghanistan untuk Mengajar, Suami Malah Dituduh Teroris

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Lika-liku Maryati: Ke Afghanistan untuk Mengajar, Suami Malah Dituduh Teroris Foto: Maryati bersama teman dan keluarganya di Melbourne (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)
FOKUS BERITA: Jelajah Australia 2016
Melbourne - Maryati, wanita asli Makassar yang kini bermukim di Melbourne, Australia, tidak akan pernah terlupa kejadian beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 2001. Ibu tiga anak itu hampir saja tidak bisa keluar dari Afghanistan saat tentara Amerika memburu Osama Bin Laden pasca peristiwa 9/11.

Meski sudah berlalu lama, Maryati masih ingat betul detail-detail kejadian yang dialaminya beberapa tahun lalu. Di tahun 2001 hampir saja dia kehilangan sang suami, Jack Thomas, yang tertangkap pihak intelijen karena diduga bergabung dengan Al Qaeda.

Wanita yang kini aktif di berbagai kegiatan komunitas muslim di Melbourne ini berbagi kisah dengan detikcom yang berada di Melbourne bersama 2 media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC International. Dengan nada penuh ketegasan, Maryati mengisahkan awal perjalanannya ke Afghanistan.

Kala itu di awal tahun 2000, Maryati bersama Jack Thomas memutuskan untuk mendatangi Afghanistan. Tujuannya bukan bergabung dengan Al Qaeda, melainkan untuk membantu anak-anak di Afghanistan mendapatkan pendidikan yang layak.

"Saat itu tahun 2000, saya dan suami memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kami mendengar di sana kekurangan sekolah dan kekurangan guru, kami berpikir saat itu, kami bisa membantu. Suami saya merasa bisa membantu mengajar bahasa Inggris dan kami memutuskan untuk pergi," kata Maryati, yang sudah menjadi WN Australia pada tahun 2000-an lalu.

Saat sampai di Afghanistan, Maryati begitu kaget, ternyata negara itu tidak menyeramkan seperti yang selama ini terlihat di media. Dia mengaku tidak pernah melihat peperangan di jalanan.

Waktu demi waktu pun berlalu saat Maryati dan suaminya mengabdikan diri untuk membantu pendidikan anak-anak di Afghanistan. Maryati menyebut, keadaan sekolah di sana memprihatinkan dan sangat kekurangan guru.

Sayangnya, Maryati kala itu pada tahun 2001 mengalami kecelakaan. Dia mengalami luka parah dan cedera di tulang belakangnya.

Sangat tidak memungkinkan untuk berobat di Afghanistan karena fasilitas kesehatan yang kurang. Sehingga, Maryati memutuskan untuk berobat di luar Afghanistan dan berpisah dengan suaminya untuk sementara waktu.

"Kami tidak bisa bersama dalam waktu lama di sana. Saya mengalami kecelakaan saat itu, tulang belakang saya retak. Saya selalu merasa kesakitan dan kami memutuskan, saya harus kembali ke Australia dan meninggalkan Afghanistan. Saat itu kondisi di Afghanistan berubah drastis, semakin buruk melebihi apa yang saya prediksi," jelasnya.

Kala itu di bulan September 2001, Maryati berniat meninggalkan Afghanistan untuk berobat. Namun, keadaan berubah drastis. Dunia baru saja digemparkan dengan serangan terhadap World Trade Center di New York, Amerika Serikat. Kelompok Al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden disebut sebagai dalang serangan itu.

Seluruh pintu perbatasan Afghanistan ditutup. Amerika dan sekutunya menerjunkan ribuan tentara ke Afghanistan. Maryati yang tengah sakit pun terjebak dan hampir tidak bisa keluar untuk mendapatkan pengobatan.

"Kami berada di Kabul, kami tengah berada dalam perjalanan meninggalkan Afghanistan saat kejadian WTC terjadi di New York dan itu mengubah segalanya. Kami tak bisa menemukan jalan keluar, semua perbatasan ditutup," urainya.

Beruntung, Maryati memiliki teman seorang pemilik panti asuhan anak yatim di Afghanistan. Melalui pertolongan temannya, Maryati bisa keluar sampai ke Pakistan.

Tentu tidak mudah lolos dari penjagaan di perbatasan. Namun kala itu, burka yang dipakai Maryati cukup menolongnya hingga dia tidak perlu menjalani pemeriksaan ketat dari pasukan penjaga perbatasan.

Sesampainya di Pakistan, Maryati langsung menuju ke Singapura dan kemudian ke Malaysia. Di Malaysia, langkah kaki Maryati terhenti. Dia memutuskan untuk menunggu suaminya agar bisa pulang bersama ke Australia.

Berhari-hari Maryati menunggu kabar dari suaminya yang masih berada di Afghanistan. Saat itu semua pintu perbatasan sudah ditutup dan Maryati sadar, akan sulit bagi suaminya untuk keluar dari negara yang saat itu keadaannya sangat mengerikan. Apalagi, suaminya adalah seorang muslim Australia yang berada di Afghanistan saat terjadi kejadian teror terkeji. Hal itu akan menjadi masalah tersendiri bagi Thomas.

"Saat itu semua perbatasan sudah ditutup, sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk pergi. Saya lalu mendengar kabar dari Autralia bahwa suami saya tengah dicari keluarganya, karena ketika kami berada di Afghanistan, sangat sulit untuk mengontak orang lain. Mertua saya di Australia benar-benar khawatir dan dia melakukan berbagai upaya untuk menemukan kami. Aku memang menunggu suamiku di Malaysia karena kami harus pulang bersama," urainya.

Maryati bersama teman dan keluarganya di Melbourne (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Kami hanya mendengar sedikit kabar tentang dia. Mertua saya kemudian datang ke Malaysia untuk menjemput saya dan keadaan saat itu mulai membaik. Saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Malaysia dan kembali ke Australia. Tapi sesampainya di Australia, saya langsung dikejar-kejar wartawan yang menanyakan keberadaan suami saya," imbuhnya.

Bertahun-tahun, Maryati tidak mendengar kabar dari suaminya yang dia yakini masih berada di Afghanistan. Maryati tidak patah semangat, dia tetap yakin suatu saat nanti suaminya akan kembali.

Hingga akhirnya, pada sekitar tahun 2004, Maryati mendengar kabar yang mengagetkan. Seorang wartawan menghubunginya dan menanyakan kabar bahwa suaminya ditangkap pihak intelijen karena diduga bergabung dengan Al Qaeda.

Hati Maryati langsung hancur. Bila sampai suaminya ditangkap CIA dan dibawa ke Guantanamo Bay, maka hari saat dia meninggalkan Kota Kabul adalah kali terakhir dirinya bisa melihat wajah sang suami.

Maryati mencoba mencari kabar soal suaminya yang ditangkap pihak intelijen. Hingga akhirnya, dia mengetahui bahwa suaminya benar-benar ditangkap dan ditahan di sebuah lokasi yang tidak diketahui.

"Kami menghubungi pihak Kementerian Luar Negeri Australia, tapi mereka tidak bisa mengkonfirmasi apakah suami saya benar-benar tertangkap. Pada akhirnya kami mendapat kabar bahwa dia tertangkap di Karachi saat dia sedang akan kembali ke Australia," kenang Maryati.

"Saat dia tertangkap di Karachi, dia langsung dibawa ke salah satu tempat yang tidak diketahui di Islamabad. Saat dia di dalam penjara, dia diinterview pihak intelijen berkali-kali. Dan dia disiksa. Dia terluka parah. Tidak diberi minum selama beberapa lama dan tidak boleh tidur berhari-hari," ujar Maryati dengan nada meninggi.

Segala upaya dilakukan Maryati agar suaminya bisa dibebaskan. Maryati yang kala itu baru mempunyai satu anak sangat yakin bahwa suaminya bukan bagian dari Al Qaeda. Mereka berdua datang ke Afghanistan karena niatan untuk membantu pendidikan anak-anak di sana, bukan untuk bergabung dengan Al Qaeda.

Usaha Maryati untuk bisa membebaskan suaminya menemui jalan terjal. Pihak pemerintah Australia saat itu disebutnya juga tidak bisa berbuat banyak untuk menolong suaminya.

"Dari sini kami melobi banyak pihak, agar pemerintah bisa meminta agar suami saya dibebaskan. Masalahnya kami adalah muslim dan kala itu ada tendensi tertentu. Ada anggapan bila kamu muslim dan kamu berada di Afghanistan, maka bisa dipastikan kamu adalah teroris. Itu sama sekali tidak benar," tutur Maryati dengan nada tegas.

Hingga akhirnya, setelah beberapa bulan berselang, Jack Thomas dibebaskan karena tidak terbukti terlibat dengan gerakan terorisme. Hingga hari ini, Maryati tidak pernah tahu kenapa suaminya ditangkap dan ditahan pihak intelijen.

"Mungkin dia ditangkap karena dia adalah warga Australia yang berada di Afghanistan. Mereka menduga, suami saya bergabung dengan Al Qaeda. Semua itu salah, kami sama sekali bukan bagian dari Al Qaeda," katanya.

Setelah sang suami kembali, perjuangan Maryati belum berhenti. Akibat pemberitaan di media yang begitu masif, Thomas pun pulang ke Australia dengan stigma sebagai seorang teroris.

Maryati memperjuangkan hak suaminya secara hukum agar nama baiknya dipulihkan. Maryati mengejar keadilan sampai supreme court (setingkat Mahkamah Agung). Dan hasilnya memang sang suami tidak pernah terbukti bergabung dengan Al Qaeda.

"Kami hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah," ungkap Maryati.
(Hbb/nwk)
FOKUS BERITA: Jelajah Australia 2016
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed