Wanita berumur 48 tahun ini banjir pujian, bahkan juga dari pemerintah Inggris, atas aksi beraninya menghadapi dan mengajak bicara pelaku pembunuhan sadis tentara Inggris di kota Woolwich. Bahkan banyak yang menyebutnya pahlawan dan menyerukan agar wanita itu mendapat penghargaan atas keberaniannya.
Namun Ingrid Loyau-Kennett bersikeras dirinya tidak melakukan hal yang luar biasa. "Itu berlebihan. Saya tidak berpikir apa yang saya lakukan itu luar biasa. Saya cuma berbicara kepada seorang pria," tutur ibu dua anak itu seperti dilansir harian Daily Mail, Jumat (24/5/2013).
Dikatakan wanita itu, dirinya hanya bertindak berdasarkan insting guna mencegah jatuhnya kembali korban. "Insting saya cuma untuk berbicara dengannya, dia kelihatan seperti pria yang normal, dia tidak mabuk, dia tidak sedang teler karena narkoba," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mencoba membuat dia bicara tentang bagaimana perasaannya. Dia bicara tentang semua bom yang dijatuhkan dan menewaskan wanita, anak-anak," tutur Loyau-Kennett.
Dikatakan wanita pemberani itu, dirinya ingin membuat pelaku terkonsentrasi hanya pada dirinya. Sebab saat itu ada banyak ibu-ibu dan anak-anak di lokasi kejadian. Jadi menurutnya penting untuk mengajak bicara pelaku dan menanyakan apa yang diinginkannya, sehingga dia tidak berbuat lebih jauh.
Ketika ditanya wartawan apakah dia tidak takut diserang pelaku, Loyau-Kennett lugas menjawab: "Tidak, lebih baik saya daripada anak-anak."
Perdana Menteri Inggris David Cameron menyebut keberanian Loyau-Kennett menunjukkan bahwa rakyat biasa bisa bersatu melawan para ekstremis.
(ita/nrl)











































