detikNews
Kamis 25 Juli 2019, 04:05 WIB

Pemimpin Oposisi Rusia Navalny Ditangkap Jelang Unjuk Rasa Pemilu Bebas-Adil

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Pemimpin Oposisi Rusia Navalny Ditangkap Jelang Unjuk Rasa Pemilu Bebas-Adil Foto: Alexei Navalny ditangkap polisi Rusia saat demo Putin (CNN)
Jakarta - Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny ditangkap pada Rabu (24/7) jelang unjuk rasa besar-besaran yang menyerukan pemilu yang bebas dan adil. Navalny akan dipenjara selama 30 hari.

Dilanir AFP, Kamis (25/7/2019), penangkapan terhadap Navalny disebut sebagai langkah nyata pihak berwenang untuk mencegah demonstrasi besar-besaran pada pekan ini.

Navalny melalui video yang diunggah di akun Instagram-nya mengatakan dia ditahan ketika meninggalkan rumahnya di Moskow untuk jogging dan membeli bunga untuk ulang tahun istrinya.

"Orang-orang benar ketika mereka mengatakan bahwa olahraga tidak selalu baik untuk kesehatan Anda," canda lawan utama Presiden Vladimir Putin ini.

"Saya telah ditahan dan sekarang berada di kantor polisi mengenakan celana pendek seperti orang bodoh," kata pria berusia 43 tahun itu.

Sementara itu, juru bicara Navalny, Kira Yarmysh, mengatakan di Twitter bahwa Navalny menghadapi hukuman 30 hari penjara karena rencana menggelar unjuk rasa 'tidak sah' pada pekan ini.

Tidak ada komentar langsung dari pihak berwenang.

Penangkapan Navalny ini merupakan yang kedua dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini terjadi setelah lebih dari 22.000 orang berunjuk rasa di Ibuk Kota Rusia pada Sabtu (20/7) lalu untuk menuntut pemilu lokal yang bebas dan adil.

Banyak politisi oposisi populer termasuk sekutu Navalny telah dilarang mencalonkan diri untuk parlemen Moskow pada bulan September, karena diduga memalsukan beberapa tanda tangan pendukung mereka.

Para politisi oposisi terebut mengatakan bahwa mereka dibuat melewati rintangan yang tak terhitung jumlahnya, dan masing-masing harus mengumpulkan sekitar 5.000 tanda tangan untuk memenuhi syarat.


Mereka telah berjuang mati-matian untuk mendapatkan kertas suara ketika mereka berusaha untuk memanfaatkan tanda-tanda ketidakpuasan publik dengan pihak berwenang.

Pihak oposisi mengatakan protes pada Sabtu (20/7) adalah yang terbesar sejak 2012, ketika puluhan ribu warga bersatu menentang kecurangan pemilu selama pemilihan parlemen.

Setelah protes itu, para politisi oposisi termasuk Ilya Yashin dan Lyubov Sobol mengeluarkan pernyataan bersama, menuduh walikota Moskow Sergei Sobyanin memicu 'krisis politik' di kota berpenduduk sekitar 15 juta orang itu.

Navalny telah mengancam unjuk rasa yang lebih besar pada 27 Juli, di dekat kantor walikota. Mereka menuntut otoritas Moskow mendaftarkan politisi anti-Kremlin dalam waktu tujuh hari.
(nvl/azr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com