detikNews
Jumat 21 Juni 2019, 19:22 WIB

Abaikan Peringatan Bom Paskah, 9 Polisi Sri Lanka Akan Diselidiki

Novi Christiastuti - detikNews
Abaikan Peringatan Bom Paskah, 9 Polisi Sri Lanka Akan Diselidiki Aparat keamanan Sri Lanka berjaga usai serangan bom bunuh diri pada 21 April lalu (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Colombo - Otoritas Sri Lanka untuk pertama kalinya menjeratkan dakwaan pidana terhadap personel kepolisian terkait 'kesalahan' terkait serangan bom Paskah pada April lalu. Sedikitnya ada sembilan polisi yang akan diselidiki oleh otoritas Sri Lanka.

Seperti dilansir AFP, Jumat (21/6/2019), setidaknya ada sembilan personel Kepolisian Sri Lanka yang akan menghadapi 'penyelidikan kriminal'. Mereka dianggap gagal mengambil tindakan setelah mendapat peringatan sebelum serangan bom bunuh diri terhadap tiga gereja dan tiga hotel setempat terjadi pada 21 April lalu.

Otoritas Sri Lanka menyebut serangan bom yang menewaskan 258 orang itu dilakukan militan lokal yang didukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Dalam pemberitahuan yang isinya memerintahkan dilakukan penyelidikan kriminal, Jaksa Agung Dappula de Livera menyatakan sebuah komisi penyelidikan yang ditunjuk oleh Presiden Maithripala Sirisena telah mendapati bahwa sejumlah personel kepolisian bertanggung jawab atas tindak pidana kelalaian.

Identitas sembilan polisi yang akan diselidiki dan didakwa pidana tidak disebut lebih lanjut. Hanya disebutkan bahwa mereka merupakan perwira senior di distrik-distrik yang menjadi lokasi serangan bom bunuh diri.


Sebelumnya otoritas Sri Lanka mengakui pihaknya mengabaikan peringatan-peringatan yang diberikan oleh negara tetangga mereka, India, soal rencana serangan dari militan lokal bernama Jamaah Tauhid Nasional (NTJ).

Dari 258 korban tewas sekitar 45 orang di antaranya merupakan warga negara asing. Sekitar 500 orang lainnya menjadi korban luka. Sejak serangan bom terjadi saat perayaan Paskah pada 21 April lalu, Sri Lanka ada di bawah masa darurat.

Badan Intelijen Sri Lanka (SIS) menuai banyak kritik karena dianggap gagal mengambil tindakan setelah menerima peringatan dari India. Presiden Sirisena yang juga menjabat Menteri Pertahanan juga Menteri Hukum dan Ketertiban ini, juga menghadapi tuduhan bahwa sebenarnya dia bisa mencegah serangan bom tersebut.

Awal pekan ini, Sirisena menolak penyelidikan yang dilakukan parlemen terhadap serangan bom Paskah dan memerintahkan kepolisian untuk tidak bekerja sama dengan penyelidikan itu. Namun penyelidikan parlemen tetap berlanjut dan pejabat kepolisian telah memberikan keterangan di hadapan anggota parlemen Sri Lanka.

Sebelum itu, Sirisena telah memecat Kepala Intelijen Nasional Sri Lanka, Sisira Mendis, karena dia memberikan keterangan di hadapan parlemen. Dalam keterangannya, pejabat intelijen itu menyatakan bahwa teror bom Paskah bisa dihindari jika polisi diizinkan menangkap dalang utama serangan bom sejak tahun lalu.


Mendis juga menyebut Sirisena gagal menggelar rapat keamanan rutin untuk membahas ancaman-ancaman keamanan.

Secara terpisah, mantan Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando dan Kepala Kepolisian Pujith Jayasundar juga mengindikasikan bahwa Sirisena tidak mematuhi protokol yang tepat dalam menangani peringatan intelijen dari India. Fernando dipaksa mundur dari jabatannya, sedangkan Jayasundar kini dinonaktifkan dari jabatannya.

Diketahui bahwa otoritas intelijen India menyerahkan informasi-informasi soal target-target serangan sejak 4 April lalu. Informasi disebut yang didapat dari seorang tahanan militan di India.


(nvc/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com