detikNews
Selasa 18 Juni 2019, 12:44 WIB

Obituari

Roller Coaster Mursi: Anak Petani, Presiden Mesir, Meninggal saat Pesakitan

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Roller Coaster Mursi: Anak Petani, Presiden Mesir, Meninggal saat Pesakitan Foto: Asmaa Waguih/REUTERS
Kairo - Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi meninggal dunia usai muncul menjalani sidang. Mursi sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum meninggal. Anak petani miskin selama hidup telah mengalami naik-turun kehidupan. Bagaimana kisah hidupnya?

Media pemerintah Mesir menyebut Mursi pingsan saat menjalani persidangan. Dia sempat berbicara di depan hakim sebelum pingsan.

"Dia berbicara di depan hakim selama 20 menit, kemudian menjadi sangat bersemangat dan pingsan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit tempat dia kemudian meninggal," kata sumber pengadilan seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (17/6/2019).


Terkait penyebab kematian Mursi, seperti dilansir dari kantor berita Reuters, Selasa (18/6/2019), stasiun televisi pemerintah Mesir yang mengutip sumber medis, Mursi meninggal akibat serangan jantung mendadak saat sidang pada Senin (17/6) waktu setempat.

Sumber tersebut menambahkan, Mursi yang menderita tumor jinak, selama ini terus mendapatkan penanganan medis secara terus-menerus.

Meninggalnya Mursi membuat pengadilan Kairo, Mesir, menunda persidangan Mursi dan 23 terdakwa lainnya dalam tuduhan berkolaborasi dengan organisasi Hamas. Sidang akan kembali dilanjutkan pada Selasa (18/6).


Perjalanan Hidup Sang Ikhwan

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Muhammad Mursi terlahir dengan nama lengkap Muhammad Mursi Issa al-Ayyat. Dia dilahirkan di El Idwah, Mesir Utara pada 20 Agustus 1951. Dia anak tertua dari lima bersaudara. Ayahnya merupakan seorang petani miskin. Dia bahkan pernah mengenang masa kecilnya ketika berangkat sekolah dengan naik keledai. Namun hal ini tak menghalanginya untuk belajar ilmu teknik di Universitas Kairo.

Lantas, dia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1979. Mursi tinggal di Amerika Serikat selama beberapa tahun ketika dia melanjutkan studi doktoralnya di California State University, Northridge. Di sana, Mursi adalah asisten profesor teknik dari tahun 1982 hingga kembali ke Mesir pada tahun 1985. Kemudian dia menjadi kepala departemen teknik bahan di Universitas Zagazig.

Kemudian, Mursi terjun ke politik. Mursi adalah anggota parlemen Mesir dari 2000 hingga 2005 sebagai anggota independen, karena para kandidat dilarang mencalonkan diri di bawah bendera organisasi Ikhwanul Muslimin.

Pada 2012, Ikhwanul Muslimin berkuasa. Dari sinilah Ikhwanul Muslimin memasang salah satu ikhwannya, yaitu Mursi sebagai capres Pemilu Mesir melalui Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP). Akhirnya Mursi menjadi presiden Mesir baru, mengalahkan mantan perdana menteri Mesir, Ahmed Shafiq dengan perolehan suara 51,7%. Mursi sendiri sebetulnya merupakan calon kedua, karena sebelumnya calon Ikhwan pertama Khairat Al-Shati telah didiskualisi oleh Komisi Pemilihan Mesir.


Mursi merupakan Presiden Mesir pertama yang dipilih secara langsung lewat pemilu yang demokratis. Sebelumnya, sejak 1981 Mesir telah dipimpin oleh Husni Mubarok yang telah dilengserkan pada tahun 2011.

Ketika Mursi berkuasa, Mursi ternyata justru mengeluarkan kebijakan yang dinilai justru mengkomodasi kepentingan kelompok islamis keras. Ia menunjuk tujuh gubernur regional dari Ikhwan dan wilayah Luxor dari Gamaa Islamiya, kelompok Islam garis keras yang dianggap bertanggung jawab atas pembantaian wisatawan di Luxor pada tahun 1997.

Akhirnya kebijakan ini kembali membawa pengunjuk rasa turun ke jalan. Pada Juli 2013, militer menggulingkan Mursi. Mursi dan teman-teman ikhwannya ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Sebagai Presiden, Mursi dinilai tak punya visi yang jelas terkait pemulihan kondisi perekonomian Mesir. Selain hanya mengandalkan suntikan dana dari Qatar dan sekutu lainnya. Dia juga dinilai gagal dalam menjaga intoleransi di Mesir. Salah satunya saat pengikutnya menyerang kaum minoritas Kristen Koptik. Namun, Mursi juga punya jasa. Yaitu saat dia membantu proses gencatan senjata antara Israel dan Hamas.


Pada Agustus 2012, Mursi digantikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Mesir, Hussein Tantawi. Pada November 2013 Mursi diadili, didakwa dengan hasutan untuk melakukan pembunuhan dengan hukuman penjara seumur hidup. Pada November 2016, Pengadilan Tinggi membatalkan hukuman penjara seumur hidup untuk Mursi dan 21 terdakwa lainnya, termasuk beberapa yang telah menerima hukuman mati dalam kasus tersebut. Hakim Pengadilan Tinggi memerintahkan pengadilan ulang.

Namun, pada 2019 Mursi meninggal pada usia 67 pada usai menjalani sidang pada Senin (17/6). Jaksa penuntut umum menyatakan, Mursi dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit pada Senin (17/6) pukul 16:50 waktu setempat dan laporan awal tidak menunjukkan adanya tanda-tanda cedera pada tubuhnya.
(rdp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com