DetikNews
Selasa 23 April 2019, 14:30 WIB

Tokoh Muslim Sri Lanka Serukan Hukuman Maksimum untuk Pelaku Bom Paskah

Novi Christiastuti - detikNews
Tokoh Muslim Sri Lanka Serukan Hukuman Maksimum untuk Pelaku Bom Paskah Situasi di salah satu gereja di Sri Lanka usai diserang bom (Derana TV/via Reuters TV)
FOKUS BERITA: Bom Guncang Sri Lanka
Colombo - Para tokoh muslim di Sri Lanka mengucapkan belasungkawa kepada para korban serangan bom saat perayaan Paskah. Mereka juga menyerukan agar 'hukuman maksimum' dijatuhkan terhadap siapa saja yang terlibat serangan mematikan tersebut.

Seperti dilansir AFP, Selasa (23/4/2019), pernyataan ini disampaikan saat pemerintah Sri Lanka enggan memberikan informasi detail soal para tersangka yang telah ditangkap karena khawatir semakin memperburuk ketegangan antar etnis. Diketahui bahwa sejauh ini sudah 40 tersangka yang ditangkap Kepolisian Sri Lanka.

"Kami mendorong pemerintah untuk memberikan keamanan bagi semua tempat-tempat ibadah dan memberikan hukuman maksimum terhadap semua orang yang terlibat dalam aksi pengecut ini," ucap All Ceylon Jamiyyathuul Ulama (ACJU), semacam dewan cendekiawan muslim.

"Atas nama komunitas muslim Sri Lanka, kami menyampaikan belasungkawa kami bagi warga penganut Nasrani dan mengulurkan tangan persahabatan kami dalam solidaritas," imbuh ACJU dalam pernyataannya.


ACJU juga menyatakan pihaknya telah bertemu dengan Uskup Agung Colombo, Kardinal Malcolm Ranjith, usai serentetan serangan bom melanda tiga gereja Katolik setempat yang sedang menggelar misa Paskah juga empat hotel mewah dan sebuah rumah di pinggiran Colombo.

Dalam pernyataan terpisah, Dewan Syura Nasional yang beranggotakan 18 organisasi muslim di Sri Lanka, juga menyampaikan belasungkawa mendalam untuk para korban dan keluarganya. Mereka juga melontarkan seruan khusus untuk pemerintah Sri Lanka dalam penyelidikan serangan bom ini.

"Melakukan semua hal yang mungkin dalam upaya-upaya menangkap biang keladinya siapa pun itu dan dari komunitas mana saja mereka berasal," tegas Dewan Syura Nasional dalam seruan untuk pemerintah Sri Lanka.

Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, dalam pernyataan terbaru menyebut 'sekitar 40 tersangka' yang ditangkap terkait rentetan bom mematikan itu, merupakan warga negara Sri Lanka. Detail soal para tersangka tidak diungkap lebih lanjut. Seorang sumber kepolisian setempat menyebut para tersangka berasal dari satu kelompok radikal, namun tidak disebut nama kelompoknya.


Secara terpisah, juru bicara pemerintahan Sri Lanka, Rajitha Senaratne, menyatakan pemerintah Sri Lanka mencurigai militan lokal bernama National Thowheeth Jama'ath atau Jamaah Tauhid Nasional (NTJ) ada di balik rentetan bom yang menghancurkan tiga gereja, empat hotel mewah dan sebuah rumah di pinggiran Colombo.

Otoritas Sri Lanka mencurigai NTJ mendapat bantuan dari jaringan internasional dalam melancarkan aksinya pada Minggu (21/4) lalu. Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena akan menemui para diplomat yang berkantor di Colombo untuk meminta bantuan internasional.

Diketahui juga bahwa Kepolisian Sri Lanka telah merilis peringatan pada 11 April lalu, yang isinya menyebut 'sebuah badan intelijen asing' melaporkan bahwa NTJ sedang merencanakan serangan terhadap gereja dan kantor komisi tinggi India di Sri Lanka. Perdana Menteri (PM) Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, mengaku tidak mendapat informasi itu dan telah memerintahkan penyelidikan untuk mencari tahu mengapa dinas intelijen gagal mengambil tindakan atas informasi tersebut.



Simak Juga 'Umat Katolik di Makassar Kirim Doa untuk Korban Bom Sri Lanka':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/dhn)
FOKUS BERITA: Bom Guncang Sri Lanka
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed