detikNews
Senin 22 April 2019, 15:08 WIB

Kesaksian Keluarga Fernando yang Lolos dari Bom Paskah di Sri Lanka

Novi Christiastuti - detikNews
Kesaksian Keluarga Fernando yang Lolos dari Bom Paskah di Sri Lanka Situasi di dalam Gereja St Sebastian di Sri Lanka usai ledakan bom terjadi (REUTERS/Athit Perawongmetha)
FOKUS BERITA: Bom Guncang Sri Lanka
Colombo - Seorang warga Sri Lanka dan keluarganya nyaris menjadi korban ledakan bom di Gereja St Sebastian, Negombo, saat ibadah perayaan Paskah pada Minggu (21/4) waktu setempat. Dilip Fernando memilih pindah pergi ke gereja lain karena situasi di Gereja St Sebastian saat itu sangat penuh jemaat.

Seperti dilansir AFP, Senin (22/4/2019), keputusan Fernando itu menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sesaat usai Fernando meninggalkan Gereja St Sebastian pada Minggu (21/4) waktu setempat, ledakan besar mengguncang gereja yang terletak di area berjarak 35 kilometer sebelah utara Colombo.

Puluhan orang tewas akibat ledakan bom di gereja tersebut. Selain di Gereja St Sebastian, serentetan ledakan bom juga mengguncang tujuh lokasi lainnya. Lokasi-lokasi itu terdiri dari Gereja St Anthony di Kochikade, Kotahena, Colombo dan Gereja Katolik Roma Zion di Batticaloa, yang berjarak 315 kilometer dari Colombo.

Kemudian Hotel Shangri La, Hotel Kingsbury, dan Hotel Cinnamon Grand yang semuanya ada di Colombo, juga Hotel New Tropical Inn yang ada di Dehiwela, dekat kebun binatang nasional Sri Lanka. Ledakan terakhir terjadi di sebuah rumah di wilayah Dematagoda, Colombo saat dilakukan penggerebekan oleh Kepolisian Sri Lanka. Ledakan yang diyakini bom bunuh diri ini merupakan ledakan kedelapan. Dilaporkan sedikitnya tiga polisi tewas dalam ledakan tersebut.


Sedikitnya 290 orang tewas dan 500 orang luka-luka akibat serentetan ledakan bom itu pada Minggu (21/4) waktu setempat.

Pada Senin (22/4) pagi waktu setempat, Fernando mendatangi gereja yang sama untuk melihat kerusakan yang terjadi. Tampak puluhan petugas keamanan berjaga di luar gereja. "Saya biasanya beribadah di sini," tutur pensiunan berusia 66 tahun ini kepada AFP.

"Kemarin (21/4), saya dan istri saya tiba pukul 07.30 waktu setempat tapi karena penuh sesak, tidak ada tempat untuk saya. Saya tidak ingin berdiri jadi saya pergi dan mendatangi gereja lain," imbuhnya.

Namun tujuh anggota keluarga besar Fernando, termasuk menantu dan dua cucu perempuannya memutuskan untuk tetap beribadah di Gereja St Sebastian. Mereka duduk di luar gereja karena bagian dalam sudah penuh jemaat.


Saat itulah, keluarga besar Fernando melihat sesosok pria yang diyakini sebagai pelaku bom diri. "Pada akhir misa, mereka melihat seorang pria muda masuk ke dalam gereja dengan membawa sebuah tas yang terlihat berat. Dia sempat menyentuh dahi cucu saya saat melintas. Itulah pengebomnya," tutur Fernando.

Menurut Fernando, keluarganya heran mengapa pria itu masuk ke gereja saat misa sudah akan berakhir. Disebutkan Fernando bahwa menurut keluarganya, pria itu terlihat berusia sekitar 30-an tahun, tampak sangat muda dan tidak berdosa. "Dia tidak terlihat senang tapi juga tidak tampak takut. Dia sangat tenang," imbuhnya.

Sesaat setelah pria itu masuk ke dalam gereja, ledakan besar pun terjadi. "Mereka (keluarga Fernando-red) mendengarnya dan dengan cepat berlari menjauh, mereka sangat takut. Mereka segera menelepon saya untuk bertanya apakah saya ada di dalam gereja, tapi saat itu saya berada di gereja yang berbeda," ucap Fernando.

Fernando menyatakan tidak ada satupun anggota keluarganya yang tewas maupun terluka akibat ledakan bom itu. Namun komunitas Katolik yang tergolong minoritas di Sri Lanka sangat terpukul. "Saya sangat beruntung karena biasanya saya akan beribadah ke gereja ini. Kami merasa lega, kami sangat beruntung tapi kami sangat sedih untuk seluruh desa. Akan digelar pemakaman besar-besaran di desa ini segera," ujarnya.


Jumlah korban yang tewas akibat ledakan di Gereja St Sebastian tidak diketahui pasti. Namun laporan menyebut jumlahnya mencapai puluhan orang, dengan foto-foto yang diambil dari lokasi menunjukkan banyak jenazah tergeletak dan cipratan darah di banyak area gereja, serta bagian atap gereja yang rusak parah.

Sesuai dengan keterangan keluarga Fernando, Kepolisian Sri Lanka meyakini seorang pengebom bunuh diri bertanggung jawab atas ledakan besar di Gereja St Sebastian pada Minggu (21/4) waktu setempat. Hingga kini belum ada kelompok maupun pihak tertentu yang mengklaim bertanggung jawab. Sekitar 24 orang, yang semuanya warga negara Sri Lanka, ditangkap polisi setempat terkait serentetan ledakan bom ini.

Lebih lanjut, Fernando berharap agar ledakan bom ini tidak memicu aksi balas dendam. "Balas dendam itu tak berguna. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengendalikan situasi, bukan kita," tegasnya, sembari mengkritik pemerintah Sri Lanka yang mengakui telah mendapat informasi soal serangan 10 hari sebelumnya.

"Sebuah serangan seperti ini seharusnya bisa dihindari," tandasnya.


(nvc/ita)
FOKUS BERITA: Bom Guncang Sri Lanka
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed