detikNews
Kamis 18 April 2019, 12:45 WIB

Mesir Akan Gelar Referendum Perpanjang Masa Jabatan Presiden Al-Sisi

Novi Christiastuti - detikNews
Mesir Akan Gelar Referendum Perpanjang Masa Jabatan Presiden Al-Sisi Spanduk untuk referendum memperpanjang masa jabatan Presiden Abdel Fattah al-Sisi bertebaran di Mesir (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)
Kairo - Mesir akan menggelar referendum untuk memperpanjang masa jabatan Presiden Abdel Fattah al-Sisi. Referendum ini dijadwalkan digelar pada 20-22 April mendatang.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (18/4/2019), permohonan sejumlah amandemen konstitusi, termasuk memperpanjang masa jabatan presiden, telah mendapat persetujuan parlemen Mesir pada Selasa (16/4) lalu. Dari total 596 anggota parlemen Mesir, yang didominasi pendukung Al-Sisi, sebanyak 531 suara mendukung amandemen dan hanya 22 suara yang menolak.

Dalam amandemen itu, masa jabatan Presiden Mesir akan diperpanjang dari empat tahun menjadi enam tahun. Bila amandemen itu diloloskan, maka Presiden Al-Sisi akan bisa menjabat hingga tahun 2024, dari yang sebelumnya hanya sampai tahun 2022.

Tidak hanya itu, dengan amandemen konstitusi ini, Presiden Al-Sisi akan bisa mencalonkan diri untuk untuk periode ketiga setelah masa jabatannya berakhir. Konstitusi Mesir saat ini membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode, dengan masing-masing masa jabatan empat tahun setiap periode.


Dengan kata lain, jika amandemen ini disetujui rakyat Mesir dalam referendum, maka Presiden Al-Sisi bisa saja akan terus menjabat hingga tahun 2030 mendatang.

Amandemen konstitusi itu juga memberikan pengaruh militer yang lebih besar dalam sektor politik dan memberikan kendali lebih luas bagi Presiden Al-Sisi atas peradilan, serta memperluas yurisdiksi pengadilan militer atas warga sipil. Nantinya, Presiden Al-Sisi bisa menunjuk langsung para pejabat kehakiman dan membentuk kamar atas dalam parlemen Mesir.

Tahun 2013 lalu, Al-Sisi memimpin militer Mesir dalam menggulingkan Mohamed Morsi -- yang merupakan presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis. Penggulingan dilakukan setelah terjadi unjuk rasa besar-besaran di Mesir menentang kepemimpinan Morsi. Al-Sisi menjabat periode pertama sebagai Presiden Mesir sejak tahun 2014. Dia terpilih kembali untuk periode kedua pada Maret 2018 lalu, dengan meraup lebih dari 97 persen suara secara total.

Para pendukung Al-Sisi menyebut amandemen konstitusi ini diperlukan untuk memberikan lebih banyak waktu kepadanya dalam menyelesaikan proyek-proyek pembangunan yang besar dan melanjutkan reformasi ekonomi.


Namun para pengkritik menyebut amandemen ini hanya akan semakin memusatkan kekuasaan di tangan Al-Sisi, yang oleh para aktivis HAM disebut terus memimpin penindakan keras terhadap praktik kebebasan di Mesir.

Kepala Komisi Pemilu Nasional Mesir, Lashin Ibrahim, dalam konferensi pers menyatakan bahwa pemungutan suara untuk referendum itu akan digelar 'di dalam wilayah Mesir' selama tiga hari antara 20-22 April dan digelar sehari lebih awal, pada Jumat (19/4), di misi-misi diplomatik luar negeri.

Diperkirakan referendum ini hanya mendapatkan sedikit perlawanan di Mesir. Salah satu warga Kairo, Sayed Abdel Fattah Ahmed, menuturkan kepada AFP bahwa dirinya mendukung amandemen konstitusi, meskipun dia sendiri mengaku belum membacanya secara keseluruhan.

"Pandangan saya adalah amandemen ini penting," tegas Fattah Ahmed yang berusia 56 tahun ini. "Konstitusi bukanlah kitab suci, itu bisa diubah berdasarkan ... situasi negara ini," imbuhnya.


(nvc/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com