detikNews
Jumat 29 Maret 2019, 11:47 WIB

Kerap Dianiaya, 3 PRT Indonesia Kabur dari Rumah Majikan di Malaysia

Novi Christiastuti - detikNews
Kerap Dianiaya, 3 PRT Indonesia Kabur dari Rumah Majikan di Malaysia Ilustrasi (detikcom/Zaki Alfarabi)
Kuala Lumpur - Tiga pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia di Malaysia melarikan diri dari rumah majikan mereka setelah mengaku dianiaya. Majikan ketiga PRT itu disebut merupakan seseorang yang bergelar Tan Sri di Malaysia.

Diketahui bahwa Tan Sri merupakan gelar federal paling senior kedua, di bawah Tun, dan sebutan kehormatan yang digunakan untuk penerima gelar kehormatan Panglima Mangku Negara (PMN) dan Panglima Setia Mahkota (PSM). Gelar Tan Sri dianugerahkan oleh Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong.


Seperti dilansir media lokal Malaysia, The Star, Jumat (29/3/2019), ketiga PRT itu diyakini kabur dari sebuah bungalo di wilayah Country Heights, Kajang, yang berjarak 23 kilometer dari Kuala Lumpur. Mereka dibantu seseorang yang membawa mereka ke Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur untuk meminta bantuan lebih lanjut.

"Pejabat kedutaan mengajukan laporan pada 22 Maret terkait dugaan penganiayaan," sebut Wakil Komisioner Kepolisian Kajang, Ahmad Dzaffir Mohd Yussof dalam pernyataannya.

"Ketiga korban, yang berusia 25-41 tahun, telah bekerja pada majikan mereka, masing-masing selama tujuh tahun, empat tahun dan enam bulan," imbuhnya. Identitas ketiga PRT asal Indonesia itu tidak diungkap lebih lanjut ke publik.


Kepada polisi setempat, ketiga PRT itu mengaku mendapatkan perlakuan kasar dari majikan mereka. Identitas majikan ketiga PRT ini juga tidak diungkap lebih lanjut, hanya disebut bahwa si majikan bergelar Tan Sri dan tinggal di area kelas atas di Kajang.

"Penyelidikan awal menunjukkan bahwa mereka (ketiga PRT) kabur karena tidak tahan menghadapi perlakuan kasar oleh majikan mereka dan istrinya yang seorang Puan Sri," ucap Ahmad Dzaffir. Diketahui bahwa Puan Sri merupakan sebutan kehormatan untuk istri seorang Tan Sri.

"Ketiganya mengklaim mereka dipukul dan ditampar, juga ditahan gaji dan paspor mereka," ujarnya.


Disebutkan Ahmad Dzaffir bahwa ketiga PRT itu melarikan diri dari rumah majikannya dengan memanjat pagar, kemudian dibantu seorang pria yang tidak mereka kenal, yang bersedia membawa mereka ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia.

"Penyelidikan di lokasi berujung penyitaan dua paspor dan sebuah i-card milik para korban yang ditahan oleh sekretaris tersangka," ungkap Ahmad Dzaffir.

"Pemeriksaan medis pada korban menunjukkan tidak ada tanda-tanda luka fisik. Pemeriksaan yang sama juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda penganiayaan seksual atau mental pada korban," imbuhnya.


Ditambahkan Ahmad Dzaffir bahwa ketiga korban telah dikirimkan ke sebuah tempat aman di suatu lokasi, setelah perintah perlindungan sementara diterbitkan pengadilan setempat.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com