detikNews
Sabtu 16 Februari 2019, 19:06 WIB

PBB Ingin Kumpulkan Bantuan Rp 12,7 T untuk Rohingya di Bangladesh

Novi Christiastuti - detikNews
PBB Ingin Kumpulkan Bantuan Rp 12,7 T untuk Rohingya di Bangladesh Pengungsi Rohingya di kamp pengungsian (Mohammad Ponir Hossain/Reuters)
New York - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan bantuan kemanusiaan sebesar US$ 920 juta (Rp 12,7 triliun) untuk pengungsi Rohingya yang kabur dari Rakhine, Myanmar. Bantuan kemanusiaan sebesar itu ditujukan bagi sekitar 1 juta pengungsi Rohingya yang kini ditampung di kamp-kamp Bangladesh.

Sekitar 740 ribu warga minoritas muslim Rohingya kabur ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari operasi militer Myanmar yang sarat kekerasan pada Agustus 2017 lalu. PBB mengecam operasi militer Myanmar itu sebagai praktik 'pembersihan etnis' terhadap Rohingya.

Ratusan ribu warga Rohingya itu bergabung dengan 300 ribu pengungsi Rohingya lainnya, yang telah terlebih dulu mengungsi demi menghindari tindak kekerasan di Rakhine beberapa tahun lalu. Mereka semua menempati kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh yang penuh sesak.


Dalam pernyataan gabungan, seperti dilansir AFP, Sabtu (16/2/2019), Badan Pengungsi PBB atau UNHCR dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyatakan mereka sedang berupaya menggalang dana hingga US$ 920 juta untuk para pengungsi Rohingya.

"Untuk memenuhi kebutuhan massal bagi lebih dari 900 ribu pengungsi dari Myanmar dan lebih dari 330 ribu warga Bangladesh yang rentan sebagai komunitas tuan rumah," demikian bunyi pernyataan gabungan UNHCR dan IOM itu merujuk pada tujuan bantuan kemanusiaan itu.

"Bantuan dan layanan kritis seperti makanan, minuman, sanitasi dan tempat penampungan mencapai angka lebih dari separuh dana yang diperlukan tahun ini," imbuh pernyataan gabungan itu.


"Sektor-sektor penting lainnya termasuk kesehatan, pengelolaan lokasi, aktivitas-aktivitas perlindungan seperti perlindungan anak dan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis jenis kelamin, pendidikan imunisasi dan nutrisi," tegas pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, menyerukan kepada Myanmar 'untuk mengambil langkah mendesak demi mengatasi akar persoalan yang memicu krisis yang terus ada selama beberapa dekade, agar orang-orang tidak lagi dipaksa melarikan diri dan akhirnya bisa kembali ke rumah dengan selamat dan bermartabat'.

Di Myanmar, warga Rohingya secara luas dipandang sebagai imigran gelap dari Bangladesh dan tidak diberi status kewarganegaraan yang sah, bahkan tidak diakui hak-hak juga akses untuk pekerjaan dan pendidikan selama puluhan tahun terakhir.


Simak Juga 'Berkerudung, Angelina Jolie Tengok Kondisi Pengungsi Rohingya':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com