detikNews
Jumat 25 Januari 2019, 11:46 WIB

Astronot Apollo 14 Temukan Batu Bumi Tertua di Bulan

Novi Christiastuti - detikNews
Astronot Apollo 14 Temukan Batu Bumi Tertua di Bulan Batu yang dibawa astronot Apollo 14 dari Bulan, yang ternyata batu tertua di Bumi (Dr David A Kring/Cener for Lunar Science and Exploration)
Washington DC - Ketika para astronot Apollo 14 kembali ke Bumi dengan membawa sampel-sampel dari permukaan Bulan, mereka tidak menyadari jika mereka mempertemukan kembali Bumi dengan bagian dari sejarah awalnya.

Seperti dilansir CNN, Jumat (25/1/2019), informasi itu disampaikan dalam Jurnal Earth and Planetary Science Letters yang membuat hasil penelitian mengenai batu tertua Bumi tersebut. Disebutkan dalam jurnal tersebut bahwa batu tertua yang diberi nama 'moon rock' atau 'batu Bulan' itu diperkirakan bertabrakan dengan Bulan, setelah tubrukan keras lainnya meluncurkannya dengan cepat dari Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu.

Para peneliti meyakini bahwa saat itu sebuah komet atau asteroid besar menabrak Bumi dan meluncurkan batu tertua tersebut hingga keluar atmosfer dan bahkan ke luar angkasa. Batu itu kemudian secara tak sengaja bertabrakan dengan Bulan karena saat itu jarak Bumi-Bulan lebih dekat tiga kali lipat dari saat ini.

Batu tertua itu sebut terdiri atas kuarsa (penyusun utama dalam pasir, batuan dan berbagai mineral), feldspar (kelompok bebatuan mineral yang terdiri atas kalium, natrium dan kalsium alumino silikat), dan zircon atau yakut (batu mineral dengan beberapa macam warna, biasanya biru atau hijau).

Ketiga elemen itu diketahui yang sangat umum di Bumi namun tidak banyak terdapat di Bulan.


Sebuah analisis terhadap bebatuan itu mengungkapkan bahwa batu tertua itu terbentuk pada suhu udara yang terasosiasi dengan Bumi dan dalam kondisi yang mirip seperti Bumi dikombinasikan dengan oksigen. Batu tertua itu diketahui terkristalisasi antara 4 miliar dan 4,1 miliar tahun lalu, ketika Bumi masih sangat muda, di kedalaman 19,9 kilometer di bawah permukaan Bumi.

Jika memang batu itu terbentuk di Bulan, tentu akan menunjukkan kondisi suhu udara berbeda. Komposisi dan seluk-beluk soal batu itu juga dinilai para peneliti sangat tidak biasa bagi sebuah sampel dari Bulan.

Lantas, jika batu tertua itu terbentuk di bawah permukaan Bumi, bagaimana bisa terlempar keluar hingga ke luar angkasa? Para peneliti meyakini satu atau beberapa benturan hebat terhadap permukaan Bumi membuat batu itu keluar di permukaan. Saat itu, Bumi diketahui sedang mengalami benturan asteroid yang mampu membentuk kawah selebar ratusan kilometer.

Saat ditemukan di permukaan Bulan, batu tertua itu bercampur dengan material lainnya. Analisis terbaru mengungkapkan bahwa batu itu mungkin pernah terkena tubrukan lain dan bahkan meleleh sebagian sekitar 3,9 miliar tahun lalu, hingga terkubur di bawah permukaan Bulan dan membentuk batu 'baru'.

Kemudian sekitar 26 juta tahun lalu, sebuah asteroid menabrak Bulan dan memicu terbentuknya Cone Crater yang memiliki lebar 321 meter. Insiden ini membantu memunculkan batu tertua itu ke permukaan Bulan.


Selanjutnya, ketika para astronot Apollo 14 menemukan batu itu dalam misi sekitar 48 tahun lalu -- antara 31 Januari hingga 6 Februari 1971 -- mereka berpikir batu itu merupakan sampel organik yang akan memberikan informasi soal Bulan dan komposisinya.

Tim penelitian internasional yang menganalisis batu tertua itu mengembangkan teknik untuk mencari fragmen benturan di permukaan Bulan. David Kring selaku penyelidik utama bagi Center for Lunar Science and Exploration, menantang timnya untuk mencari 'pecahan' Bumi di Bulan. Dia meyakini akan ada lebih banyak batu serupa yang ditemukan. Hal itu menjadi bagian dari misi NASA, khususnya Solar System Exploration Research Virtual Institute.

Kring menilai, temuan ini mungkin dianggap kontroversial oleh sejumlah pakar geologi. Namun bagi Kring dan timnya, temuan ini tidak mengejutkan mengingat Bumi pernah dilanda tubrukan hebat selama Hadean eon saat Bumi terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com